Ujungnya Sama
Aku tahu kalau ini akan berakhir sama. Tapi di atas semua keraguanku waktu itu, kautenangkan dengan kalimat bersenandung merdu, indah, puitis, mengalahkan lukisan termahal di Museum British. Mulanya sama, kau yang semakin tidak yakin denganku, bilang kalau perasaanku hanya penasaran, janji-janji hanya bualan. Lalu kita dihadapkan beberapa masalah, tidak terlalu besar, tapi ego dan keras kepala kita yang meledak-ledak. Kau pun mulai membanding-membandingkan, kalau aku tak setara dengan lelaki-lelaki yang memilikimu lebih dulu. Iya aku tahu, tidak ada yang bisa kaubanggakan dariku. Mulai dari fisik, finansial, atau memberimu hadiah dan kesan menarik meski bukan di hari spesial. Jauh sebelum kita mengakui perasaan masing-masing, berulang kali kutekankan bahwa aku hanyalah pria biasa seperti pada umumnya. Dengan mimpi-mimpi kecil yang dibiarkan hidup dengan sendirinya. Perlahan kau pun berubah, hampir sepenuhnya. Aku yang selalu meminta waktumu, meski kadang tidak kau hiraukan dan kau ...

.png)
.png)

.png)
