Multiperan

 

    Ada banyak kejadian di bumi yang terjadi secara tiba-tiba. Tanpa rencana, tanpa keinginan, bahkan tanpa disangka-sangka. Termasuk percakapan kita yang kukira sudah melangkah lebih jauh dari awal perkenalan yang baru terjadi dua hari lalu.

  Malam itu, arah angin membawaku ke sebuah akun sosial media yang entah punya siapa. Poto postingannya yang menawan, tata letak yang sederhana tapi elegan, termasuk kalimat yang diunggah banyak menyentuh perasaan. Lama aku terpana di dinding yang sedikit mendeskripsikan tuannya itu. Ah, begitu indah, batinku.

   Aku menemukan kutipan puisi yang ia dandani rapi di riasan jalanan kosong yang tampak sangat sunyi. Sisi kanan dan kiri diisi halte tua tanpa penunggu. Diedit agar sorot cahayanya semakin memanjakan mata. Ini merupakan gambar terbaik dengan kutipan termanis yang ia punya, tentunya selain swafoto dirinya dengan berbagai macam gaya. Kukirimkan pesan memuji bagaimana tulisan itu begitu memesona, sampai akhirnya pesan itu berbalas juga.

    Kami pun berdiskusi panjang, mulai dari aplikasi edit poto yang digunakan, filter favorit, smartphone yang menjadi senjata, sampai buku apa yang dekat dan menjadi bagian dari cerita hidupnya. Bagiku, ini percakapan terpanjang dan juga terbaik dengan seorang wanita yang baru kukenal bahkan ketika kusadari jam pasir belum sepenuhnya turun. Anehnya lagi, kami belum sempat bertukar nama secara sah atau identitas lain layaknya perkenalan yang biasa terjadi.

  Selepas kesibukan hari ini, aku mengajaknya bertemu di sebuah tempat di mana aku biasa menyelesaikan deadline pekerjaan. Awalnya ia bilang sedikit terlambat, namun ia datang lebih cepat dariku beberapa menit dan sudah memesan minuman pada seorang pelayan. Obrolan-obrolan itu terbuka, aku menyukai cara bertuturnya, cara dia menyampaikan pendapat pribadi, beberapa pandangan yang sedikit lebih tajam dari pemikiranku, literatur bahasa yang ia gunakan, sampai caranya mendengarkan lawan bicara, semuanya tersimpan dengan kesan sangat baik di memoarku.

  Sejak patah hati terakhirku setahun silam, tidak pernah kurasakan kembali perasaaan yang mengguncangkan dada, dan membuat hati penuh tanda tanya. Hari ini, perasaan itu hadir kembali di sela-sela ia berbicara dan tersenyum. Sorot bola matanya seperti menarik seluruh ragaku untuk tenggelam di perairan yang begitu biru. Senyumnya yang mengandung fruktosa membuat jantungku nyeri dan hampir tidak berdetak sama sekali. Beberapa saat kupastikan bahwa di punggungnya tidak ada satu sayap yang sedang terluka atau patah. Saat itu juga aku mulai percaya bahwa wanita ini memang manusia biasa, bukan sosok dari surga yang turun ke bumi karena salah langkah.

    Kupastikan bahwa hatiku sudah jatuh dan tinggal menunggu waktu untuk tumbang. Tapi satu yang kutahu, setiap orang yang hadir di kehidupan kita punya perannya masing-masing. Entah itu yang membahagiakan lalu memberi tangisan atau yang menyakitkan lalu berakhir dengan penyesalan. Aku percaya bahwa perannya adalah untuk menyembuhkan rasa sakitku yang belum sepenuhnya pulih. Oleh karenanya, akan terlalu berani jika aku meletakkan sebagian hatiku ke dalam genggamannya yang tulus tak berdosa.

    Wanita ini terlalu sempurna dalam pandanganku. Ia masih seharusnya bertumbuh dengan nilai yang ia punya. Bisa bertukar cerita saja, rasanya semesta terlalu baik untukku yang masih sulit menetapkan arah. Jika di kemudian hari dunia merestui dengan memberikan rambu yang kupahami, barangkali aku akan sedikit tegak menatapnya dan sekuat baja melindunginya. Namun jika tidak, ia akan tetap mengagumkan. Ia akan tetap berperan dalam perjalanan hidup yang terus bergerak. Dan ia akan kuingat sebagai wanita dengan senyum paling menenangkan, serta tawa paling menyenangkan.

“Perasaan baik bisa berakhir dengan kepemilikan, atau dengan kerelaaan.”


Komentar

Postingan Populer