Lama Sudah
Lama
sudah waktu berlalu tanpa aku sempat bertanya bagaimana kabarmu. Walaupun itu
hanya sekadar pertanyaan basa-basi karena aku tahu kau selalu baik-baik saja.
Setidaknya begitulah menurutku dalam setangkup kalimat semoga. Mungkin harusnya
kau yang bertanya bagaimana kabarku. Sebab setelah kau memutuskan pergi di hari
itu, ada banyak nestapa dan kegelapan hinggap di jantungku yang lebam membiru.
Tapi aku paham jika egomu masih menjadi tembok yang berdiri gagah atas rasa
bersalah yang menjadikanmu semakin dewasa.
Aku
senang mendengar bahwa perkuliahanmu berjalan dengan lancar. Kau menjuarai
beberapa kompetisi karena usahamu yang begitu kerasnya. Lalu juga kudengar kau
bekerja paruh waktu untuk menambah pengalaman dan ilmu di sebuah kantor yang
dari namanya begitu mumpuni. Seperti yang pernah kubilang, kau adalah seseorang
yang berusaha setekun mungkin demi sesuatu yang kauingin. Aku percaya kau akan
selalu melahirkan hal-hal hebat, termasuk rasa sakit yang kini membuatku kuat.
Namun
belakangan kabar angin merayu telingaku dengan sejuknya. Ia bilang kalau kau
terluka karena seseorang yang membuatmu meninggalkanku kala itu. Jujur aku
tidak bahagia mendengarnya, tapi aku juga tidak bisa mengatakan turut berduka
apalagi mengecap itu sebagai karma. Sedari dulu, seperti yang pernah kubilang
bahwa aku meyakini bahwa Tuhan itu adil dan kausempat mengamini. Apa yang
kautanam, itu yang kaupetik. Pepatah sederhana yang suaranya sumbang namun
maknanya begitu dalam.
Kuharap
kau tidak begitu lama menenggelamkan diri dalam tangis, musik yang mendayu, dan
pintu kamar yang terkunci. Mungkin dalam masalah ini aku bisa sedikit
memberikan nasihat baik walaupun kau tidak pernah memintanya. Bukan karena aku
sok tahu, tapi kau pasti paham aku pernah melewati masa suram dalam jangka
waktu yang cukup panjang. Dan jangan anggap ini sebagai kepedulian yang masih
mengharapkan atensi, sebab jauh sebelum kau berpikir ke arah sana, niat untuk
kembali dan bersama telah kusemayamkan dalam pusara berhias bunga beragam warna.
Kau
bisa mulai dengan menyibukkan diri, entah itu membaca buku bergenre misteri
atau menghapal lirik lagu yang belakangan sering kauputar berulang kali. Bisa
juga dengan mekuni lagi hobi yang sempat kaulupakan, misalnya memotret lampu
jalanan sepulang dari membeli nasi untuk makan malam. Intinya, ada banyak hal
yang bisa menunjang aktivitasmu, agar kau tidak berdiam diri dan menangisi yang
telah lalu. Jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk meng-upgrade diri.
Kau yang pernah mengingatkanku bahwa manusia perlu bergerak supaya di satu
titik terendahnya ia tidak terlalu lama terjebak. Kini, kalimat itu aku
kembalikan dengan testimoni dari seseorang yang sudah berhasil menertawakan
kegagalan.
Pada
akhirnya, aku hanya ingin kau selalu baik-baik saja. Pahit rasanya hidup dalam
keadaan terus berduka yang berlanjut sampai mengasihani dan mengutuk diri
sendiri. Kadang beberapa pilihan yang meyakinkan juga berakhir menyakitkan.
Apalagi pilihan yang didasari dengan mengorbankan perasaan orang lain.
Sederhananya begini, beberapa perjuangan yang tidak sanggup untuk kauhargai dan
kaugenggam, jangan seenaknya kausakiti dan kaucampakkan.
Kuyakin kau akan segera sembuh, dari patah hati yang akan menguatkanmu.
.png)
Komentar
Posting Komentar