Yang (Mungkin) Sering Kita Abaikan
Hal-hal remeh yang biasanya kita rasakan atau datang sendiri ke
kepala, di beberapa kesempatan kerap kita abaikan sebagai angin lalu. Kita
jemput dia datang ke pikiran, lalu ia melahap waktu tenang, dan sekejap pergi
ketika kita berasumsi bahwa kita baik-baik saja. Bagaimana kalau itu adalah
sebuah pesan atau bahkan sebuah alarm agar kita lebih peka terhadap lingkungan
dan orang-orang sekitar.
Ada sebuah kalimat yang tidak asing di sekitar kita. Begini
bunyinya: Orang yang meninggalkan kita lebih dulu, berarti tugasnya di dunia
sudah selesai”. Pernah tidak kau berpikir tugas dari setiap masing-masing
kita yang masih hidup, sebenarnya apa? Selain urusan agama, untuk ibadah, dan
lain-lain. Beberapa bulan belakangan aku sering berpikir demikian. Ada orang
baik yang telah berpulang secara tiba-tiba, semasa hidupnya aku menjadi saksi
bahwa yang ia kerjakan adalah amal baik untuk beberapa orang di dekatnya. Lalu
aku bertanya, kenapa bukan aku yang berpulang? Aku merasa sedang tidak
mengerjakan apa-apa, hidup hanya sebatas untuk kesenangan diri sendiri. Berbeda
dengan dia, ada orang-orang yang masih sangat butuh genggamannya. Kenapa bukan
aku? Padahal dia menggunakan napasnya, detak jantungnya, dan waktunya untuk
membantu orang-orang yang sedang dalam masa sulit. Jika dia masih hidup, akan
banyak orang yang merasakan manfaat dari keberadaannya dibandingkan aku yang
masih belum tahu tugasku sebenarnya apa.
Pertanyaan itu berkembang biak layaknya kecambah yang tumbuh subur
di tanah. Sebenarnya aku dilahirkan di dunia ini untuk apa? Apa iya cuman untuk
eksistensi diri sendiri? Entah itu mengejar cita-cita, impian, dan hal lainnya
yang hanya berpusat pada kesenangan pribadi? Bagaimana jika sebenarnya aku
hidup untuk menyelamatkan seseorang dari masa kelamnya? Namun, karena waktu
yang kugunakan tidak bermanfaat, kesempatan itu lenyap dan seseorang itu
semakin memperparah hidupnya. Bagaimana kalau aku hidup untuk membuat seseorang
terus merasa baik-baik saja? Namun, karena keegoisan dan keangkuhanku aku
menganggap dia adalah orang yang kuat padahal dia sedang butuh pelukan untuk
meneriakkan sakitnya. Bagaimana kalau aku hidup untuk melerai mereka yang sedang
bertikai? Namun, karena aku bodo amat terhadap sesuatu yang tidak berdampak
kepadaku, aku merasa tidak perlu melakukan itu dan mereka semakin berseteru
sampai akhir hidupnya. Iya, mungkin ini adalah salah satu tugas yang kecil jika
kita bandingkan dengan perjalanan hidup yang panjang, namun bagaimana jika
tugas itu akan berdampak besar dan ada tugas lainnya yang harus diselesaikan
jika kita berhasil menyelesaikannya lebih dulu? Bagaimana?
Tulisan ini ada bukan untuk menambah beban pikiran. Tulisan ini ada
dari ratusan hari yang mengisi kepala untuk membuat kita lebih peka terhadap
lingkungan terutama orang sekitar. Kita bisa memulainya dari hal-hal sederhana,
yang mungkin sering kita abaikan. Misalnya, bertanya kabar kepada teman yang
sudah tidak kita sapa. Jangan kabar tidak mengenakkan yang membuat kita
tersadar bahwa kita punya teman yang selama ini hanya berdiam diri di kontak
seluler. Mungkin dengan sapaan kita, dia bisa merasa dihargai keberadaannya.
Kita bisa memberikan semangat kepada orang yang sedang berjuang melewati masa
sulit, baik di dunia pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan. Mungkin saat ia
sedang terjatuh dalam lubang hitam, dan kita datang hanya dengan memberikan
semangat itu bisa membuatnya lebih baik lagi dan membuat hidupnya memancarkan asa kembali.
Kita bisa mengucapkan selamat kepada mereka yang sedang berbahagia hari ini,
entah itu menikah, punya anak, atau ada pencapaian lain. Mungkin doa dan ucapan
dari kita yang ia tunggu, tidak harus berbentuk hadiah, kadang kala satu dua
patah kata juga mampu mengetuk pintu surga.
Ada banyak hal kecil yang bisa kita lakukan tapi berdampak besar
terhadap orang lain. Ada banyak sekali. Untuk itu, mari lebih peka terhadap
dunia tempatmu singgah. Karena hidup ini layaknya jaring laba-laba yang saling terhubung
antara satu sama lain, waktu dengan waktu, dan kebaikan dengan kebaikan.
Berbuat baiklah tanpa harus membuatnya menjadi tajuk berita. Kita bisa berbuat
baik tanpa harus meneriakkannya. Kita bisa berbuat baik, sangat bisa, tanpa ada
ego yang menghalanginya.
.png)
Komentar
Posting Komentar