Hadiah
Jam menunjukkan
pukul satu malam. Mataku terbuka menatap langit-langit kamar yang kekurangan
cahaya. Entah mengapa jam segini aku terbangun, hal yang tidak pernah terjadi
sebelumnya. Beberapa kali kucoba untuk terlelap kembali, namun sepertinya bunga
mimpi tidak akan datang lagi setidaknya untuk malam ini.
Aku
mengecek gawai untuk mencari hiburan yang barangkali bisa mengundang kantuk
untuk datang. Akan tetapi, hari dan tanggal yang terpampang di layar
mengingatkanku akan sesuatu yang tidak begitu jelas. Google foto menjadi
alternatif untuk melihat apa yang terjadi hari ini. Setelah tidak butuh waktu
lama untuk ditelusuri, ternyata ini hari di mana seorang wanita yang kutemui
dua tahun lalu, dilahirkan ke bumi.
Bibirku
melukis senyum, tidak pernah menyangka jika sudah lebih dari setahun bersama
seseorang yang mayoritas paginya dihabiskan berbincang dengan kucing anggora di
teras rumah. Perempuan yang bisa bad mood hanya karena teh yang dia buat
sendiri rasanya terlalu manis. Perempuan yang begitu mudah tertawa karena
kuberi tebak-tebakan, “buah, buah apa yang bisa menghitung rumus? Sirsak.
Sirsak Newton.” Perempuan yang bekerja keras demi mencapai keinginannya
sampai rela memangkas jam tidurnya. Perempuan yang paginya bercita-cita mau
diet, tapi siang makan nasi pakai rendang, dan malamnya makan martabak
mozarella ditemani segelas dalgona. Dengan segala tingkahnya yang lucu dan
membingungkan, aku ingin terus berada di sampingnya untuk memperingati hari
lahirnya setiap tahun. Setiap waktu.
Tapi
dia bukan seorang wanita yang begitu menyukai perayaan, termasuk ulang tahun.
Dia pernah bilang, sampai detik ini tidak menemukan alasan mengapa ulang tahun
harus dirayakan. Umur bertambah, jatah hidup berkurang, tapi ibadah dan improve
diri tidak berkembang. Lalu apa yang harus dirayakan dengan sepotong kue
tar berhias lilin di atasnya? Bukankah mereka yang sedang merayakan ulang tahun
sedang berbohong kepada dirinya sendiri? Mereka tertawa, bahagia, sampai sunyi
datang menghampiri dengan menampar realita, sudah umur segini kok belum bisa
berbuat apa-apa?
Setahun
yang lalu, aku memberikan dia hadiah bunga philodendron. Bukan untuk merayakan
hari lahirnya, melainkan bertepatan di hari itu, ia menjadi pemenang lomba
karya tulis yang diikutinya. Dia jauh lebih suka diberi ucapan selamat dan doa
baik pada hari di mana ia berhasil menggapai mimpinya dan menaklukkan rasa
malas yang menggerogoti kemampuannya. Seminggu yang lalu, karena ia pandai
merawat bunga philodendron yang mulanya berdiri di samping lampu belajar, kini
sudah ia pindahkan ke taman belakang rumah untuk dibiarkan tumbuh menjalar.
Tidak
ada hadiah istimewa yang kuberikan, tapi aku berdoa kepada Tuhan agar umurmu
diberkahi sepanjang jalan. Semoga sehat terus menyertaimu, demi hal-hal kecil
sampai besar yang nantinya akan kita lewati berdampingan. Semoga kau tidak
menjadi manusia yang berpuas diri terhadap apa-apa saja yang sudah diraih, baik
yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Semoga perbuatan baik tidak jenuh
kaulakukan, meski beberapa harus berakhir dengan tepukan sebelah tangan. Semoga
kau menjadi manusia yang kuat untuk bertahan di segala macam keadaan, dan
menjadi manusia yang merayakan sesuatu dengan tidak berlebihan. Ada banyak
semoga yang tidak bisa kusebutkan semua. Jelasnya, kalimat baik itu akan tetap
melangit walau kau tidak akan mengingatnya.
Semoga tahun-tahun berikutnya, masih aku yang Tuhan pilihkan untuk menemani hari-harimu. Setiap waktu.
.png)
Komentar
Posting Komentar