Ujungnya Sama


Aku tahu kalau ini akan berakhir sama. Tapi di atas semua keraguanku waktu itu, kautenangkan dengan kalimat bersenandung merdu, indah, puitis, mengalahkan lukisan termahal di Museum British. Mulanya sama, kau yang semakin tidak yakin denganku, bilang kalau perasaanku hanya penasaran, janji-janji hanya bualan. Lalu kita dihadapkan beberapa masalah, tidak terlalu besar, tapi ego dan keras kepala kita yang meledak-ledak.

Kau pun mulai membanding-membandingkan, kalau aku tak setara dengan lelaki-lelaki yang memilikimu lebih dulu. Iya aku tahu, tidak ada yang bisa kaubanggakan dariku. Mulai dari fisik, finansial, atau memberimu hadiah dan kesan menarik meski bukan di hari spesial. Jauh sebelum kita mengakui perasaan masing-masing, berulang kali kutekankan bahwa aku hanyalah pria biasa seperti pada umumnya. Dengan mimpi-mimpi kecil yang dibiarkan hidup dengan sendirinya.

Perlahan kau pun berubah, hampir sepenuhnya. Aku yang selalu meminta waktumu, meski kadang tidak kau hiraukan dan kau acuhkan. Tidak ada lagi pesan yang mengisi notifikasi, entah berkabar sedang apa, atau memberi tahu kalau kucing di rumah habis makan tanah. Perhatian pun luntur, balas pesan sesingkatnya, hanya mencari masalah lalu aku yang mati-matian menyelesaikannya sendirian. Kau selalu begitu. Menganggap bahwa aku manusia tak punya perasaan.

Ujungnya sama. Kau menyalahkan aku atas semua keadaan yang terjadi. Kau menyalahkan aku bahwa kegaduhan ini karena aku keras kepala. Kau menyalahkan aku, dan selalu begitu. Sesekali cobalah bercermin, merenungi apa-apa yang sudah kau lakukan untukku. Tentang bagaimana aku berjuang seorang diri, tentang bagaimana aku dihakimi atas kesalahan yang kau buat, tentang bagaimana aku mau bertahan sejauh ini. Kau yang buat peraturan, kau yang banyak melanggarnya. Seolah-olah permintaan maaf hanya nyanyian untuk menenangkan situasi. Padahal bukan itu hakikatnya. Agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kali dan seterusnya. Begitu kan harusnya?

Ternyata ujungnya sama. Kau tak lagi peduli, membiarkanku ditenggelamkan sunyi, lalu perlahan beranjak pergi. Jangan salahkan aku jika langkahmu kuamini, karena aku pun punya hati yang harus dibereskan karena kau memilih pergi dan mencari pengganti. Setidaknya, aku sudah sekuat-sekuatnya bertahan dan merawat ini semua. Sebelum kau buat hancur tanpa asa.

Ternyata kau tidak ada bedanya. Hanya membawa luka dalam bentuk yang berbeda.


Komentar

Postingan Populer