Sehat Selalu, Ya!
21 Februari 2003, seorang wanita yang memiliki bola mata hitam kecoklatan lahir ke dunia. Ia dilahirkan dari rahim seorang Ibu yang mewariskan kecerdasannya, jelitanya, cantiknya, anggunnya, dan segala macam keindahan yang membuat rembulan malam tertegun padanya. Lalu, ia dibesarkan oleh ayahnya yang mewariskan kebijaksanaannya, auranya, tegasnya, dan segala prinsip yang membuat lawan bicaranya memperhatikan syarat makna.
Aku tidak tahu masa kecilnya seperti apa. Sejauh yang kulihat, dari caranya berbicara ketika menjelaskan, tatapan matanya ketika menyimak, jemarinya ketika menjabat perkenalan, lengannya ketika memeluk lelah, dan hal lain yang membuatku yakin ia dibesarkan di tengah keluarga yang bahagia dan orangtua yang menyayanginya dengan amat sangat.
Kutemukan ia di 2019, di kantin salah satu fakultas sewaktu jeda makan siang. Ingat sekali, dengan pakaian biru bubblegum yang rapi, tas sandang mini yang mungkin hanya muat satu buku catatan kecil, dua pulpen, dan sunscreen 50+ SPF, ia duduk bersama teman-temannya sekitar empat sampai lima orang. Ditemani topik obrolan yang membuat tawa mereka mengisi gelas-gelas kosong dan etalase yang sudah dilap bersih.
Tidak berani aku berbuat banyak, selain menyimpan senyumnya di saku kemeja depan. Pikirku, ini hanya sebatas kagum yang terbatas pada meja ditindih bangku-bangku kayu, setelahnya akan menghilang dengan memori bak daun-daun menguning layu. Ternyata aku salah, Tuhan mempertemukan kita di kesempatan berikutnya dengan keberanian yang diturunkan kepadaku seperti anugerah. Mencari celah sedikit untuk membuka obrolan, basa-basi dengan degup tidak karuan, bertanya adakah kesempatan percakapan ini melangkah lebih jauh ke depan.
Kita semakin dekat, lewat pembahasan malam yang mendekap penuh hangat. Pertemuan yang merekam senyum, mendulang tawa, dan mengeruk tangis, semua kita lewati dengan perasaan lega yang mengisi rongga dada. Sampai akhirnya, kita dihadapkan beberapa masalah. Sebelumnya, solusi selalu kita temukan ketika masalah datang bertandang, tapi kala itu temboknya terlalu tinggi katamu. Aku pun meminta waktu, berpikir lagi, lalu mengadakan pertemuan ulang. Ternyata benar, kali ini kita tidak bisa berbuat banyak selain mengharap keajaiban.
Setelah proses berpikir panjang, berdiam diri, menyendiri kita lalui. Kita sepakat untuk menyudahi apa yang sudah kita mulai. Bukan perihal lama atau sebentar, melainkan perihal menyelamatkan perasaan masing-masing, ucapmu dengan teduh. Air mata menunjukkan rupanya dari balik kelopak matamu, mengembun dan merintik penuh syahdu. Kau menyekanya sembari menguatkan aku yang hanya tertunduk lesu dengan tatapan lusuh. Kita akan bertemu lagi dengan pencapaian-pencapaian yang sudah kita raih, impian yang menjadi nyata, dan doa-doa yang kembali kepada pemiliknya, kau mengatakan itu sembari bangkit berdiri lalu beranjak pergi.
Hampir dua tahun kita menjadi asing. Tak kutemukan kau di mana pun, kecuali dalam bunga tidur perias dinihari. Namun, seperti ucapanmu, aku masih yakin suatu saat kita akan bertemu kembali dengan diri kita yang sudah bertemu versi terbaik dari dirinya. Tentu aku menunggu saat itu tiba. Ingin aku dengar ceritamu yang panjang karena banyak peristiwa yang kulewatkan sebab tidak berada di sampingmu. Mulai dari perkuliahanmu, sampai pria mana yang sekarang mendapat perhatianmu.
Hari ini genap sudah umurmu yang ke-21. Aku masih ingat kalau kau tidak menyukai perayaan ulang tahun. Lilin yang dinyalakan lalu dipadamkan, kue yang hanya dimakan beberapa potong lalu dibiarkan begitu saja, ucapan dari rekan sejawat sebagai bentuk formalitas yang hanya memenuhi ruang notifikasi, dan segala sudut pandang yang mayoritas membuatku menyetujui.
Tulisan ini kulantunkan untuk memperingati 21 Februari penuh arti. Aku tidak tahu ini akan sampai kepadamu atau tidak, jelasnya semoga doa-doa baik yang ada di sini membuatmu sehat selalu dan dihujani bahagia. Semoga dalam langit penuh harap.

.png)
Komentar
Posting Komentar