Mercusuar
Aku
enggak pernah tahu bakal apa jadinya kalau suatu saat kamu pergi gitu aja.
Karena sekarang, jujur, aku menikmati setiap dentuman detik denganmu. Aku
enggak tahu harus apa kalau nanti kamu mengecewakan aku. Karena untuk saat ini,
kamu orang paling istimewa yang bahkan aku cemburu sama semesta yang setiap
saat bisa menyaksikan senyummu. Aku enggak tahu harus apa. Kamu tetap mau
bertahan di sini, kan? Sama aku? Kita jelajahi waktu tanpa berpikir untuk
menyakiti. Kita sudah cukup. Sangat cukup untuk menjadi sepasang yang paling
disemogakan.
Kalimat yang pernah terpahat di latar pikiran itu kini menjadi kenyataan. Kebencian pada dinihari yang menggoreskan tiap kata seperti mendikte isi kepala penuh basa-basi. Kau membuktikan bahwa itu bukanlah ilusi maupun halusinasi. Tapi barang jadi yang sudah dirancang bumi untuk ditimpakan padaku. Kau pergi dengan langkah-langkah kecil yang tega. Tanpa pernah mau mengeja hatiku yang belum berhenti memuja. Kata-kata yang menyusun kesatuan kalimat ironi. Tak perlu bermajas tapi menggetarkan hati. Bisa saja saat itu aku disuruh bersiap untuk menghadapi kehilangan. Ah, tapi siapa yang siap ketika dihadapkan perpisahan?
Apakah kau masih ingat? Ketika hidupku terombang-ambing pilu, kau hadir menawarkan segala keperluan yang kubutuhkan. Bernada lembut setiap perhatian kauantarkan. Hadirmu layaknya mercusuar, di mana kapalku bisa berlabuh pada sebuah dermaga saat ombak sedang bergemuruh sekerasnya, saat karang menghadang sekuatnya. Cahaya di mercusuar itu sekarang telah padam meski kemarin malam sinarnya sedang berpijar terang benderang. Burung-burung laut yang senantiasa berteduh dari derasnya hujan juga mempertanyakan. Angin malam yang begitu dingin tak lagi pernah singgah di bangunan tinggi itu karena tahu pemiliknya sudah melarikan diri.
Mercusuar itu masih padam. Sorot
cahayanya berganti sinar rembulan yang memantul di tangga-tangganya yang tinggi
menjulang. Sedangkan kapal itu masih betah berlabuh. Di hadapan air nan biru
dan deru ombak dia diam membisu. Sudah diperintah oleh ikan-ikan kecil yang
berenang persis di bawah kapal untuk segera mencari yang baru, tapi ia belum
mau dan belum mampu. Dia tahu di tengah lautan akan ada banyak mercusuar yang
terlihat, dalam kepalanya bertanya apa ada yang seindah mercusuar di pelabuhan
ini?
Nakhodanya melihat mercusuar itu bukan sekadar penanda atau membantu navigasi laut. Lebih dari itu. Dia punya tempat khusus di bilik kapal yang hanya dia seorang yang tahu. Para awak kapal meyakini bahwa ini sebatas cahaya yang ditembakkan dari tempat tinggi di dekat bibir pantai menuju tengah samudera, sebagai penunjuk arah bagi setiap kapal yang bingung hendak berlayar ke mana. Antara rasa dan perspektif tidak diperbedatkan di sini. Awak kapal percaya bahwa kapal yang dikendalikan nakhoda ini tidak pernah salah arah. Nakhoda pun percaya bahwa awak kapal tidak akan membentangkan layar yang melawan mata angin. Mereka saling percaya. Tapi yang terluka saat ini hanya nakhoda, dan yang lain tidak pernah tahu apa-apa.
Tidak hanya itu, pijar yang diberikan adalah pelindung pelabuhan beserta kapal-kapal yang bersemayam sementara. Penyelamat kala lelah meninggi di antara bintang-bintang. Pemberi rasa aman bagi setiap jiwa yang dilanda ketakutan. Lensa yang berputar di lautan seakan menawarkan jeda untuk beristirahat dari rumitnya kegiataan berhari-berhari. Kapal bernapas dalam-dalam saat jangkar diturunkan lalu ditancapkan. Ikan-ikan kecil menyambut dan mengerumuni bawah kapal yang berlumut. Seisi kapal berteriak, ada badan yang butuh rehat sejenak.
Kini pelabuhan itu gelap gulita. Tidak ada lagi lensa maupun api sebagai penerang yang berasal dari menara tinggi. Kehadirannya berganti sekumpulan kunang-kunang dan setiap jengkal dindingnya mulai terbingkai oleh jaring laba-laba. Dua hewan pertanda lapuk dan terbengkalainya sebuah bangunan atau benda. Belum tahu sampai kapan mercusuar itu akan dibiarkan begini. Tapi kapal-kapal yang pernah ke sini sepertinya sudah hapal harus membentangkan layarnya ke mana. Satu nakhoda belum ingin beranjak. Dia masih ingin merapal malam dan berbicara dengan seisi bumi untuk mengembalikan cahaya yang dulu kembali lagi. Tidak pernah ada jawaban. Kepergian tanpa alasan.
Pada air laut yang begitu biru, izinkanlah aku untuk mengawali rindu ini pada sebuah karang yang terseret menepi. Menuliskan namamu di barisan pasir putih sebagai satu-satunya yang bisa kugenggam. Kehampaan ditemani berisiknya hewan-hewan buas yang berkeliaran. Rasa takutku tenggelam oleh kesedihan tanpa undangan. Mengapa kepergianmu meski meninggalkan kenangan? Mengapa tidak hancur saja bangunan itu bersama dengan cahayanya? Sebegini inginkah kau menyiksaku? Melihatku meratap pada awan yang selalu meredakan hujan, pada bumi yang tetap berputar sesuai aturan, dan pada perjalanan yang menyakitkan.
Kurang apa aku mengistimewakanku? Merawat kilaumu agar tak pernah pudar, hingga menjagamu ketika dinihari penuk sesak sunyi. Inikah balasanmu? Balasan yang mungkin tidak pernah diinginkan oleh seseorang yang perasaannya sedang tidak biasa saja. Ada yang tumbuh di dalam dada, dahannya menyeruak ke hati, buahnya hampir tiba di mulut yang kaku berbicara. Kukira semuanya sesuai kesepatakan kita, namun semesta memberi kejutan yang sulit dicerna.
Kapal ini akan segera membentangkan layar. Di depan sana semestinya ada sesuatu yang dikejar. Kapal-kapal bertenaga uap telah berangkat sebelum subuh. Memercayai arah angin sembari menjemput mentari tiba, agar jelas arus yang ditempuh dan menepis rasa khawatir yang membuat celaka. Kupercayakan semua yang ada di sini untuk menjaga mercusuar yang kehilangan nyawa. Suatu saat aku akan berlabuh lagi. Semoga kehampaan akan berganti dengan berisik yang tidak mengenal bisu baik kata dan langkah. Satu hal yang kuterima adalah bahwa kita layaknya nakhoda dan mercusuar. Seberapa sering dan lama kapalku singgah, tetap saja ada bagian dari kokohnya bangunanmu yang tidak bisa aku jamah. Karena kita cukup untuk saling melengkapi di dunia lautan, bukan untuk dipersandingkan.
“Aku menerima layaknya cahaya. Kau meninggalkan saat pagi sudah tiba.”
.png)
Komentar
Posting Komentar