Imaji

 


Kutatap dengan khidmat mata itu

Yang hitamnya membelai lautan

Putihnya yang memeluk langit

Pun jernihnya menetap di pikiran

 

Senyumnya mengakar di belantara nadiku

Membirukan darah yang sebelumnya abu-abu

Mengalirkan cita yang mengetuk dada

Membelah jantung yang mengutuk rasa

Lalu menanggal dengan ramah sebagai rumah


Ingin kuiisi setiap rongga jemarinya

Untuk menuntun dan menemani langkah

Yang kerap mendekapku ketika lelah

menyeka emosiku tatkala marah

serta memeluk tubuhku sampai pagi tiba

 

Namun mentari menyapa lebih dini

padahal hadirmu masih hangat di sini

menampar jiwa yang meleburkan imaji

bahwa sosokmu tak lebih dari sekadar mimpi


Komentar

Postingan Populer