Sayap Kupu-Kupu


 

Tidak pernah hinggap di kepalaku kupu-kupu yang meng-aamiin-kan doa-doa lewat sayapnya yang sempurna seperti seseorang yang sedang duduk di depanku petang ini. Matanya yang kecoklatan, pipinya yang menggemaskan, hidungnya yang berdiri gagah, dan keindahan yang menyadur lalu membentuk satu manusia istimewa. Entah dari mana asalnya, jika dia menjawab dari segumpal udara yang diembus bunga melati rasanya aku akan percaya tanpa meragukan sepatah kata.

Bagiku bertemu denganmu adalah mimpi. Mimpi yang tumbuh subur dalam tidur yang tidak terbangunkan oleh nyanyian ayam dan sinar mentari pukul sembilan pagi. Nyenyak oleh cerita imajinasi yang tercipta sendiri, terbangun karena gerah tiba-tiba kipas angin di kamar mati. Entah kebetulan atau tidak, selepas dari aku terpanah oleh busur senyummu yang tepat menghunus jantungku, alam seperti bekerja untuk memperkenalkan kita. Mungkin agar aku lebih lekat menatap wajahmu, melahap senyummu, dan bersandar nyaman di balik aroma wangimu.

Aku percaya bahwa tubuh merekam apa yang hati bicarakan. Dia menjelma darah yang mengalir dari ujung kaki sampai ujung kepala, berdetak luruh di denyut nadi berulang kali, merapal doa yang tidak sempat mulut ucap karena kehabisan puisi. Puja dan puji seorang manusia kepada lawan jenisnya, suara merdunya mengalahkan penyanyi yang kerap menjadi pemenang, anggunnya mengalahkan oksigen yang dilahirkan dari beribu pohon rindang, serta lembutnya mengalahkan kain sutra yang ditenun berulang-ulang. Manusia memang berlebihan, selama rasa sakit belum niat untuk bertandang.

Terima kasih sudah mau menjabat perkenalanku yang sederhana, di sebuah meja perayaan suksesnya sebuah acara terselenggara. Sejak malam itu, hari baik menantiku di tiap paginya. Menyediakan pintu yang aku sendiri bisa bebas menulis skenarionya. Mengirimkan pesan bertanya kabar, hari ini baik atau menyebalkan, sampai berdiskusi tentang artikel berita yang baru selesai kaubaca. Menyenangkan. Aku menyukai aktivitasku sejak mengenalmu. Tentang bagaimana aku bisa terus belajar dan produktif, diwarnai suaramu yang tiba-tiba mengisi dering notifikasi.

Doa-doa itu tidak pernah mati. Ia terus mengalir, berlabuh di suatu tempat, dan berubah menjadi sesuatu yang baru lagi. Ia terus hidup bahkan ketika napas berhenti. Maka sekarang aku percaya, doa itu bertumbuh seiring berjalannya waktu. Menjadi sesuatu yang baik, menyisihkan kejadian yang membuat hidup menjadi buruk. Akan terus kulamat doa tulus ini demi senyum teduhmu, yang mampu menenangkan ketika kepalaku dikeroyok berbagai macam pertentangan, ketika hatiku bingung menentukan pilihannya, dan ketika langkahku linglung menunjukkan langkah pulang.

Maka tetaplah di sini, bersamaku. Terus terang aku tidak bisa menjanjikan hidupmu dilingkupi bahagia. Tapi aku akan tetap berada di sampingmu, ketika ujian bertubi-tubi itu menjadikan jiwamu perlahan lemah. Tetaplah bersamaku. Kau bisa menangis di pelukanku kapan pun kau mau. Kau boleh menghubungiku walaupun malam sudah bergerak mendekati subuh. Tetaplah di sini, denganku. Hingga kau tersadar tidak akan kautemukan di luar sana yang membuatmu bertahan selain aku.

Pada akhirnya doa-doa itu akan tetap bersenandung, memenuhi ruang kosong di bilik nadimu. Menguap lewat kedipan mata, bercahaya layaknya asmara yang merekah. Apa pun yang terjadi, akan akan tetap di sini. Memujamu sepanjang waktu, hingga mati terhempas debu.

Komentar

Postingan Populer