Sadar Diri

 


    Setelah hampir sepanjang tahun untuk tidak membuka hati kepada siapa pun, beberapa waktu lalu pintu yang kukira sudah rapat terkunci itu terbuka kembali. Seseorang mengetuknya, dengan tatapan yang ayu, senyum yang manis, dan perangai yang lucu, dia berhasil membuka kode dan pola sembarang sebagai validasi untuk masuk entah untuk tujuan apa.

    Dia bukan seseorang yang asing, tapi kami tidak saling kenal. Sekadar teman sapa, mungkin tepat menjelaskannya. Beberapa kali kami bertukar cerita, mulai dari mimpi waktu kecil sampai skripsi yang terus tertunda penyelesaiannya. Tidak ada yang aneh, semuanya berjalan normal seperti berteman pada umumnya. Namun karena intensitas komunikasi yang lebih sering dari biasanya membuatku berasumsi dan merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa.

    Aku merasa tidak menaruh hati, apalagi asa. Tidak lagi ingin aku bermain dengan harapan, pikiran yang menerbangkan mimpi, dan kalimat baik yang tertangkup dalam kedua telapak tangan, tidak lagi. Sudah mahir aku merasakan tipu dayanya, kebal aku karena mereka, tapi tetap saja butuh waktu untuk sembuh jika terjadi lagi ke depannya. Ini semua terjadi tiba-tiba, dan aku kesulitan mencernanya.

    Lama kami dalam posisi yang konstan, tanpa pertanyaan dan pembahasan perihal hubungan. Sempat terbesit dalam pikirku hal-hal baik yang bisa jadi akan kusemogakan. Tapi sepertinya itu akan terjadi satu arah. Aku terpaku lebih lama di kursi yang menopang beban tugasku, memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi atau tidak akan pernah terjadi sama sekali, atau bahkan lebih parah dari pilihan yang kedua.

    Manusia sepakat bahwa harapan adalah sesuatu yang tidak bisa dicegah hadirnya tapi bisa diubah cara menyikapinya. Semakin aku bertumpu dengan pikiran-pikiran itu, harapan tumbuh sendirinya dengan tunas baru. Belum ingin kuambil sikap, ingin aku menikmatinya karena dia adalah sesuatu yang sudah lama tak berkunjung menyapaku. Kini, di tengah-tengah kami ada harapan yang muncul di depanku entah dari mana asalnya, entah bagaimana proses terbentuknya, tapi cukup membahayakan jika sedikit saja keliru menyikapinya.

    Kuterima keberadaannya sebagai sosok yang menyenangkan. Meski di beberapa situasi dia sering mengalihkan pembicaraan yang bagiku cukup penting untuk bertukar pikiran. Tibalah saat bagaimana hatiku dipatahkan untuk pertama kali olehnya, tidak secara fisik, tapi jawaban yang mengusik. Belum lagi sembuh dari sakit itu, ia berhasil membuatku terluka untuk kedua dan ketiga kalinya. Memang sudah lama hatiku tidak dipatahkan, tapi tidak harus secepat ini kan? Saat harapan masih hangat degupnya, saat rasa masih ranum tumbuhnya, saat sakit hanyalah bualan manis semata.

    Kuteliti lebih dalam semua tentangmu, teman-temanmu, hobimu, dan seseorang yang sempat kau banggakan di masa lalu. Gila. Kau dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa, entah itu hobi mahalnya, pencapaiannya, pendidikannya, dan hal lain yang membuatku yakin untuk berkata, sebaiknya aku mundur saja. Kau bisa mendapatkan yang jauh lebih dari aku, sosok yang benar-benar kau impikan untuk menemani transformasi usiamu, menemani masa tua, merayakan pernikahan yang diunggah di sosial media, mendidik anak-anakmu sampai beranjak dewasa, dan sepanjang hidup mahir menuntunmu ibadah baik yang wajib maupun sunah.

    Lalu siapalah aku dibanding mereka-mereka yang lebih dulu membuatmu tertawa dan bercerita sampai lupa waktu? Tidak ada yang bisa kau banggakan dariku, mulai dari rupa, pendidikan yang biasa saja, pencapaiannya hanya sebatas bangun lebih pagi, dan pendapatan yang kadang tidak cukup memenuhi kebutuhan diri sendiri. Realistis. Kau tidak bisa hidup lebih bahagia dari yang sekarang jika bersamaku. Hanya bermodalkan semangat juang dan rasa tulus yang arahnya tidak tentu. Satu-satunya yang pasti dariku adalah ketidakpastian yang bisa membunuhmu kapan pun dia mau.

"Beberapa orang membahagiakan dengan tidak berdampingan, tapi dengan merelakan. Beberapa orang mengasihi dengan tidak sejalan, tapi dengan mendoakan. Sebab tiada yang lebih tinggi dari tingkat sadar diri, daripada dipaksakan yang berujung ledakan ego sendiri."

Komentar

Postingan Populer