Perjalanan Lintas Masa (2020-2021)
Seperti kebanyakan orang pada umumnya, pergantian tahun akan terasa
lengkap jika digenapi oleh sebuah perayaan. Baik bunga api yang menghiasi
langit malam, bakar-bakar ikan dan ayam di teras depan, atau juga duduk-duduk santai
sembari membahas politik yang semakin ke sini semakin menggelitik. Ya, apa pun
yang menemani pergantian tahun di 2021, semoga kita diberi kuat dalam bertahan
dan tidak pernah bosan mencoba hal baru.
Perjalanan kami dimulai dengan perencanaan yang bisa dibilang
seadanya tapi dengan tekad yang amat kuat. Seminggu sebelum tanggal 31 Desember 2020,
layaknya muda-mudi kami terbiasa menongkrong di sebuah warung setiap malam
kamis dan malam minggu. Singkatnya, dari obrolan antar telinga satu ke telinga
lain, terciptalah sebuah rencana untuk menikmati pergantian tahun di daerah
wisata sekaligus melakukan perjalanan dengan kereta (sepeda motor). Rupanya
rencana itu mendapatkan respons yang positif. Lalu karena waktu itu masih
terkumpul enam orang, kami melanjutkan dengan mencari teman lagi untuk
melakukan perjalanan, sebanyak mungkin.
Tepat di malam tanggal 30 Desember, kami melakukan rapat final
tentang keberangkatan hari esok. Terkumpul sepuluh orang dengan lima unit
kendaraan. Pendapat demi pendapat terus kami kumpulkan. Mulai dari jam
keberangkatan sampai dana yang harus disediakan. Bersamaan dengan dinginnya
kopi yang sudah kami pesan, kesepakatan pun akhirnya ditutup dengan tanda
setuju masing-masing dari kami. Dan setelahnya, kami kembali ke rumah demi istirahat
yang cukup untuk perjalanan yang akan di mulai esok harinya.
Kamis, 31 Desember 2020
Sesudah tidur yang cukup dilalui. Mentari mulai menyalakan sinarnya
dari sudut timur. Bangun, mengucek mata, menggerak-gerakkan kepala, menguap
berulang kali, sambil mengumpulkan nyawa yang masih setengah terisi. Kemudian
merapikan tempat tidur dan pergi mandi. Malam tadi,
kami sepakat berangkat paling lama pukul delapan pagi. Namun, waktu hanyalah
waktu. Jam tujuh, jam delapan, terlewati begitu saja tanpa tanda-tanda. Hingga
akhirnya pukul sembilan lewat, barulah kami berangkat. Awal perjalanan yang
sangat telat dan tentunya rundown perjalanan harus direvisi lagi.
Dua jam kami bergelut dengan debu dan asap dari berbagai macam
kendaraan. Roda kereta kami harus terpaksa berhenti di Air Batu karena ban
salah satu rekan kami mengalami bocor di tengah jalan. Kami pun menepi
sekaligus beristirahat. Tak lama, kereta yang lain juga
harus melakukan perbaikan rem belakang. Kurang pakem, kata si kawan. Kami pun
berpisah menjadi dua kubu, kubu bocor ban dan kubu rem kurang pakem. Setengah
jam berlalu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Sialnya, belum lama aspal kami jajaki, hujan datang menghampiri dan memaksa kami berhenti mendadak lagi.
Kami sempat lanjut bergerak karena mengira
hujan mulai reda. Belum ada lima menit kami bernapas, hujan turun semakin
deras. Dan, ya, kami menepi ke kiri lagi. Di sebuah warung kecil yang tinggi
dinding kayunya tidak sampai sebahu, tempat duduk bahkan semua yang ada di situ
dilahap debu. Kala itu, hujan turun sampai pukul satu. Perjalanan kami
terhambat dua jam lebih. Hujan yang terlalu larut, memutuskan kami untuk makan
bekal karena waktu sudah masuk siang hari. Kami selesai makan, hujan belum
berhenti sampai setengah jam. Ketika panas menyisihkan segumpalan mendung yang
menitikkan air, kami kembali lagi membelai jalan lintas yang basahnya membuat
kami lebih berhati-hati.
Sekitar satu jam lebih kendaraan kami berteman dengan jalan raya,
kami memutuskan untuk singgah di Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batubara. Sebelum
berangkat, persinggahan ini sudah direncanakan oleh salah satu rekan kami, dan
yang kami singgahi merupakan kakak kandungnya yang bertempat tinggal di sana.
Akses menuju rumahnya tidak begitu jauh, sekitar sepuluh menitan. Namun, karena
jalan masuk yang sedikit sulit dan becek membuat waktu perjalanan harus sedikit
lama. Tadinya, jika menilik kepada runtutan perjalanan harusnya kami tiba di
Lima Puluh sekitar pukul dua belas lewat. Namun apalah daya, jadwal hanyalah
jadwal sebagai pelengkap perjalanan kami sampai jam tiga siang menjelang sore.
Sesampainya kami di lokasi tujuan, kedatangan kami disambut begitu
hangat. Senyum, salam, dan sapa menjadi awal dari respons sang pemilik rumah begitu
rem kaki menghentikan lembut ban-ban yang sudah tidak lagi berwarna hitam kilap.
Begitu dipersilakan masuk, kami sudah disediakan bantal di ruang tamu dan ya
tentu saja badan kami langsung rebahan tanpa diperintah. Pinggang yang panas,
leher kaku, dan segala ketegangan otot yang membuat lelah menjad begitu terasa.
Karena kereta yang kami kendarai kotor lagi, beberapa rekan menyuci keretanya
sendiri di halaman bagian belakang rumah, sebagian ada yang menyucikan
keretanya di doorsmeer, dan ada yang menyempatkan memotong rambut. Waktu
istirahat yang panjang kami pergunakan dengan semaksimal mungkin, termasuk
tidur dan mengecas telepon serta mandi.
Tanpa mengetuk hidung lebih dahulu, harum mi instan tercium
menggelegar sampai ke ruang tamu. Membuat lambung mengalami gejolak dalam skala
kecil yang konstan. Secara berangsung-angsur piring mulai diangkat ke hadapan
kami, disusul gelas, es sirup, dan tentunya nasi dan mi instan dalam porsi yang
besar. Kami
pun menyantap hidangan dengan sangat menikmati. Tidak sampai sepuluh menit,
piring-piring sudah harus digilir kembali ke dapur. Tersisa gelas dan es sirup
yang masih menyapu tenggorokan sesekali. Tiba-tiba waktu sudah menunjukkan
hampir pukul enam sore. Kami pun kembali mengemas barang-barang yang tercecer
di lantai. Selesai dari situ, kami pamit kepada pemiliki rumah untuk kembali
melanjutkan perjalanan yang renggang waktunya sudah jauh dari awal rencana.
Sepengetahuan kami ada tiga alternatif untuk menuju destinasi awal
kami, yaitu Danau Toba lebih tepatnya di daerah Parapat. Pertama, bisa melalui
jalan Medan – Berastagi. Karena cuaca sedang tidak menentu dan jalan lintasnya
yang sangat ramai dan padat membuat kami tidak menjatuhkan pilihan pada opsi
ini. Kedua, lewat jalan Pematangsiantar. Untuk sampai ke jalan lintas ini, kami
harus melanjutkan perjalanan sekitar satu jam setengah lebih. Karena hari sudah
mulai gelap, pilihan ini kami coret. Ketiga, melalui lintas Lima Puluh yang
membelah Kabupaten Batubara dan Kabupaten Simalungun. Ternyata simpang untuk
lewat jalan ini hanya butuh lima belas menit saja dari tempat kami singgah
tadi. Kami pun sepakat untuk membelai jalan ini mulai pukul 18:15
WIB.
Bagi kami akses ini
merupakan kali pertama yang kami lalui untuk sampai ke Danau Toba. Kami pun
berpandu kepada Google Maps. Celakanya, baru beberapa simpang yang kami lewati
ternyata Google Maps mengarahkan ke jalan yang salah, lebih tepatnya kami
hampir dibuat putar balik. Akhirnya, kami pun bertanya kepada orang yang ada di
pinggir jalan sebagai penunjuk arah. Tidak hanya itu, ternyata jalan lintas
yang kami lewati di daerah Kabupaten Simalungun sangatlah jauh dari kata layak.
Jalanan tidak rata, berlubang, ada bebatuan di tengah jalan, membuat perjalanan
kami harus mengulur waktu lebih lama lagi. Bisa dihitung ada berapa kilometer
jalan yang benar-benar layak dan mulus.
Kabut dan gerimis halus beberapa kali ikut menghiasi perjalanan.
Tikungan tajam yang menguasai seolah sudah biasa bagi kendaraan yang kami
naiki. Jalan lurus menjadi minoritas. Juga jalan yang bagus tadi di tengah
ramainya jalan yang tidak rata. Seusai empat jam kami melakukan perjalanan; dan
dingin yang mulai naik ke intensitas lebih tinggi; tidak lupa temaram
lampu-lampu pemukiman di daerah dataran rendah,
memberi isyarat bahwa tujuan kami hanya tinggal sebentar lagi. Benar saja,
tidak lama dari situ kami sampai dan memutuskan untuk berhenti di Penatapan,
sebuah warung-warung kecil yang berderet rapi di pinggiran Danau Toba. Menyediakan
minuman hangat seperti kopi sidikalang sampai makanan berat seperti nasi goreng
dan sebagainya.
Berhubung bekal makanan yang kami bawa masih ada, kami pun
memutuskan untuk makan di sini saja sembari menunggu minuman yang sudah
dipesan. Tidak disangka, salah seorang pelayan menawari piring agar memudahkan
proses santapan. Dengan sigap kami pun langsung memberikan amunisi untuk
lambung yang sebenarnya bukan jam makan malam lagi. Bersanding dengan
kelap-kelip pemukiman yang tampak dari atas dan televisi menyala yang menyetel
film layar lebar spesial tahun baru, membuat istirahat kami begitu sangat
dimanjakan.
Malam semakin dingin, ditambah angin yang semilirnya membuat tulang
dan nadi menggigil. Jaket dan pakaian dua lapis tidak benar-benar melindungi,
hanya tampak seperti dekorasi di setiap badan kami. Setiap berbicara selalu
mengeluarkan uap putih dari mulut, padahal tidak semua dari kami menghisap
rokok. Waktu pun menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Selesai membayar
tagihan, kami pun bergegas untuk pergi sedikit ke bawah. Dari tadi bunga api
sudah meledakkan diri sesekali. Tampaknya pergantian tahun di sini diperingati
begitu mewah, terlihat dari banyaknya pengunjung yang semakin malam semakin
meramaikan jalan yang tidak terlalu luas. Lima menit lagi tahun akan berganti.
2020 menjadi 2021. Kami menepi di sebuah tikungan yang posisinya menurun dari
arah yang kami lalui. Orang-orang juga banyak berhenti, mungkin dari sini salah
satu spot yang ideal untuk melihat pergantian tahun meski suara klakson bus dan
mobil kerap mengawasi.
Jumat, 1 Januari 2021
Waktu pun berganti, menunjukkan bahwa sekarang tepat 1 Januari
2021. Dari posisi kami, jauh di depan sana bunga api meledak-ledak seperti
hilang kewarasan. Dentuman demi dentuman terus bersahutan. Danau Toba hujan
warna-warni bunga api. Di sudut kiri, kanan, depan, di posisi yang lebih
tinggi, lebih rendah, bunga api terbang seperti ingin mendapatkan pengakuan
bahwa akulah yang paling indah. Pesta bunga api ini berlangsung sekitar dua
puluh menitan. Meskipun sebenarnya substitusi waktu cuma satu menit. Kami pun
sempat mengabadikan beberapa momen ketika bahan mesiu itu mengacak-acak langit
dan menundukkan bintang-bintang. Orang bersorak-sorai, lalu lintas sepi
kendaraan, dan bumi yang sedang disihir oleh perayaan pergantian tahun yang
menggembirakan atau mungkin melalaikan.
Tapi adakah sesak yang menikam jantungmu pelan
Saat kau menatap sayu warna-warni bunga api itu?
Adakah air mata yang ingin keluar dari muara
Lalu kau tahan sembari mengedipkan mata?
Tiba-tiba kau teringat 2020 telah melakukan apa saja
Resolusi yang dulu kaugaungkan
Kini kau kubur dalam-dalam
Menjadi lebih dewasa
Bertahan dari setiap situasi pelik dan susah
2021, cukup itu harap yang menyala
Pesta perayaan mulai meredam. Kami menuju ke arah bawah dengan
maksud yang belum ada. Kami masuk ke daerah tempat wisata yang padatnya bukan
main. Setiap satu menit hanya jalan dua meter. Situasi itu bertahan lebih dari
sepuluh menitan.Ternyata ada bus yang ingin putar arah di depan sana. Pantas
saja. Maksud yang tidak menentu membuat kami bingung mau ke mana. Jam mengarah
ke angka 01:30 WIB. Karena besok harus menyusuri pusat wisata di sini lagi,
kami sepakat untuk mencari tempat istirahat. Sebelum kami keluar, seorang
bapak-bapak yang sudah berumur menawarkan kami untuk tidur di wisma bersama
wisatawan lain. Namun dari posisi kami tampak begitu padatnya wisma tersebut.
Kami pun melanjutkan perjalanan keluar dari kerumunan orang-orang yang gembira
sehabis ditinggal 2020.
Kendaraan kami pun kembali memeluk kemacetan. Kondisinya lebih
macet dari waktu kami masuk tadi. Beberapa roda empat putar balik entah karena
apa. Seperti sengaja membuat kemacetan hingga ke belakang. Setelah sabar
menanti dengan gas tipis-tipis dan salip kanan salip kiri beberapa dari kami
berhasil keluar dari kerumunan padat itu. Berhubung ada empat kawan yang masih
terjebak di sana, kami pun menunggu di sebuah jalan turunan. Kendaraan kami
parkirkan di depan sebuah rumah yang terlihat seperti toko. Di halamannya
terparkir juga sebuah mobil berwarna putih. Tepat di depan garasinya kami duduk
sebentar. Tidak lama, empat kawan sudah kembali bergabung bersama kami. Dan
tidak lama juga, pemilik rumah keluar dari arah bawah bersama orang lain yang
ternyata merupakan pemilik mobil putih. Usut punya usut, ternyata di bawah sana
ada penginapan berbayar. Sang pemilik rumah menegur
kendaraan kami yang parkir di halamannya tanpa izin, dari situ kami pun
bergegas untuk jalan keluar.
Tidak jauh dari arah kami keluar. Terdapat sebuah masjid di sisi
sebelah kanan tepat di samping kantor polisi. Sempat jemawa karena berpikir
tempat untuk istirahat didapatkan, begitu kami datangi ternyata dua orang pria
memakai kupluk kepala berbeda warna, umurnya sekitaran kepala empat mengatakan
bahwa kami sudah tidak bisa masuk. Masjid itu dibatasi, ditutup sekitar pukul
sembilan malam. Rapat mendadak pun kami adakan agar secapatnya atau solusi
seadanya untuk mendapatkan tempat beristirahat. Beberapa menit bertukar kepala,
kami sepakat untuk kembali ke Penatapan, di warung kecil pertama yang kami
singgahi sebelumnya. Di sana, terdapat musala di bagian depan yang mungkin bisa
dijadikan tempat memejam sampai pagi menyapa.
Seusai memarkirkan kendaraan dengan rapi dan aman. Kami duduk di
hadapan televisi yang masih menayangkan film spesial tahun baru. Untuk siasat
berbincang dan meminta izin, kami memesan kopi panas. Beberapa dari kami
berdiskusi bersama seorang pelayan agar mau memberi izin musalanya untuk
ditiduri sampai sebelum fajar. Entah kami yang pandai bernegosiasi atau pelayan
tersebut mengasihani, kami pun diizinkan untuk tidur di musala. Dengan syarat,
sebelum subuh sudah harus berpindah agar tidak mengganggu orang yang akan
beribadah. Beberapa dari kami langsung mengambil tempat karena rasa kantuk yang
mungkin tidak tertahankan. Dua orang sisanya berjaga di depan televisi,
mengawasi kendaraan sembari menikmati adegan-adegan film layar lebar.
Seorang pelayan menghampiri rekan yang
sedang bermain game di ponselnya di depan film yang sedang seru-serunya.
Pelayan tersebut dengan berulang kata maaf mengatakan bahwa warung tersebut
akan tutup sebentar lagi. Jadi, kehadiran kami pun dipersilakan beranjak pergi.
Aneh. Warung-warung Penatapan ini biasanya buka 24 jam ditambah pengunjung yang
tidak berhenti berdatangan. Belum ada sejam bunga mimpi datang menyenyakkan.
Kami pun dengan berat hari dan mata terpaksa harus pergi mencari tempat
peristirahatan yang baru. Selesai membayar kopi yang masih tersisa tiga gelas
lagi, kami pun beranjak pergi dengan segala kebingungan.
Mau tidur di mana?
Berkendara jam tiga pagi di daerah yang
dingin merupakan sebuah bencana bagi kami. Syukurnya, tidak lama dari kepergian
yang penuh pertanyaan tadi kami menemukan sebuah warung yang tutup. Dengan
semangat kami langsung menepikan kendaraan. Setelah membersihkan lantai dari
kayu dengan kain yang ada, seekor anjing menggonggong tidak jauh dari posisi
depan warung. Lama-lama ia mendekat, satu langkah di depan kendaraan. Suaranya
terdengar serius dan tidak menginginkan kehadiran kami. Tidak salah lagi,
anjing itu diberi amanah untuk menjaga warung ini tatkala pemilik warung sedang
pergi. Dengan napas panjang kami pun pergi lagi.
Kali ini kami kembali menemukan sebuah
warung yang tutup juga. Jika dilihat sepintas kondisi warung masih sangat baru.
Lemari kaca yang bersih, kursi-kursi yang digabung jadi satu dan dirantai, pun
lantainya yang masih tercium khas wangi kayu. Selesai membersihkan debu yang
melapisi lantai, setiap dari kami membentangkan sarung untuk tidur. Bunga tidur
datang lebih cepat dan menyenyakkan saat ini. Tapi belum sempat satu mimpi
berganti, satu rekan yang berjaga membangunkan kami. Rupanya pemilik warung
datang. Bukan untuk memarahi apalagi mengusir, tapi menyiapkan bahan-bahan
masakan untuk persiapan buka pagi hari. Jam masih belum genap di angka lima, demi
menghargai pemilik warung kami pun keluar dan beberapa tidur dalam posisi
duduk. Sisanya, menghirup udara pagi yang berisi pertanyaan, siap ini mau ke
mana?
Solusi yang tidak kunjung kami temukan, membuat
kami terjebak dalam waktu yang terasa cukup lama. Demi istirahat yang lebih
tenang, kami pergi lagi ke masjid berharap sudah dibuka untuk umum sebab jam
sudah menunjukkan pukul setengah enam. Benar saja, sampai di sana kami langsung
menyandarkan punggung di dinding-dinding pagar berhadapan dengan kendaraan kami
yang juga tampak kelelahan. Tanpa sadar kami pun tertidur. Beberapa tidur di
dalam masjid dan yang lainnya tidur dalam keadaan perlu dikasihani.
Mentari mulai menyingkap gelap. Cahayanya
berpendar sampai ke posisi di mana kami tidur. Sinar yang menyilaukan itu
membuat kami membuka mata lalu bangkit dengan nyawa yang belum terbuka
sepenuhnya. Begitu menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 07:30 WIB kami
pun langsung bergegas ke kamar mandi. Bukan untuk mandi, melainkan hanya
sekadar cuci muka dan sikat gigi. Kamar mandi yang antre panjang, memakan waktu
yang tidak sedikit. Setelah semuanya selesai, kami pun mencari sarapan untuk
memenuhi asupan seperti hari-hari biasanya.
Seusai sarapan nasi gurih di sebuah warung
kecil samping Pertamina. Kami pun masuk ke area wisata Danau Toba. Kendaraan
kami terparkir di sebuah garasi dalam rumah atau tempat penginapan yang
lokasinya ada di sudut kanan dari jalan. Penjaganya merupakan seorang
bapak-bapak yang tidak terlalu tua. Dari situ, kami berangkat ke tepian Danau
Toba tanpa tujuan, hingga kemudian kami dapati pondok yang harganya murah jika dibandikan
tempat yang lain. Seratus ribu untuk posisi paling depan. Menikmati pemandangan
Danau Toba dari dekat adalah sebuah keindahan yang tidak pernah menemui kata
bosan. Airnya yang jernih, hawa yang sejuk, pohon-pohon rindang yang tegak
berdiri, belum lagi banana boat dan sepeda air yang berulang kali
melintas menengahi danau, dan segala keunikan dan keindahan yang membuat kita
betah berlama-lama asalkan materi tersedia.
Beberapa jam berjalan, kami memutuskan
untuk menceburkan diri ke dalam dinginnya air Danau Toba. Tidak ada yang
bertahan lama, mungkin setengah jam sudah kami akui sebagai titisan dewa.
Sebelumnya kami sudah bertanya-tanya berapa setiap harga wahana. Dan semua yang
kami tanya, tidak ada harga yang pas bagi pelancong rendahan seperti kami.
Berulang kali kami ditawarkan untuk menyeberang ke Pulau Samosir, dan berulang
kali juga kami menggelengkan kepala sebagai tanda tidak dulu, lebih tepatnya
tidak mampu. Ketika matahari kian terik, kami pun menyudahi dan beranjak dari
tempat ini. Di tengah jalan kaki menuju tempat parker, kami menyempatkan untuk
membeli souvenir berupa gelang, kalung, atau pun mainan kunci. Setelah tidak
ada lagi yang ingin dituju, kami mengambil kendaraan yang dititipkan tadi dan
membayarnya. Setelahnya, lanjut membelai aspal lagi.
Kapal Penyeberangan Menuju Samosir
Tujuan perjalanan siang ini adalah Sibolga.
Melalui jalan alternatif yang melewati Balige dan Tarutung. Jalan lintas yang
menjembatani kami jauh lebih bagus ketimbang jalan tadi malam. Jalanan yang
tidak ramai dan pemandangan di kiri dan kanan membuat betah sepanjang
perjalanan. Seperti biasa, perjalanan kami berpedoman kepada Google Maps. Di
sana tertera estimasi waktu untuk sampai dari Parapat ke Sibolga berkisar empat
jam. Di tengah perjalanan, saat kami berhenti di sebuah kedai kecil membeli
minuman dan jajanan, kami bertemu dengan rombongan teman yang lain. Mereka
sedang melakukan perjalanan dari Sibolga menuju Danau Toba. Kebalikannya dari
kami. Selesai berbincang-bincang tentang medan yang akan saling dilalui, kami
bergerak lagi agar tidak memakan waktu yang panjang.
Namun waktu hanyalah waktu, kami sampai
Sibolga di jam delapan. Padahal tidak banyak istirahat kami lakukan, hanya
sekali berhenti makan dan dua kali berhenti sebentar untuk mengisi bahan bakar.
Mungkin di perjalanan kami terlalu banyak jalan santai atau hati-hati karena
lintasan yang naik turun disertai tikungan tajam. Perjalanan dari Tarutung
menuju Sibolga merupakan jalan lintas yang menelan waktu banyak. Bagaimana
tidak, disertai gerimis halus rupanya jalan yang kami tempuh menebas bukit yang
satu ke bukit yang lain. Sampai akhirnya gapura “Selamat Datang Di Sibolga”
memberikan angin segar dan kesempatan bernapas bagi rongga paru-paru kami.
Gerimis rupanya ikut kami sampai ke
Sibolga. Sebelum dia menjadi hujan yang cukup deras saat kami menepikan diri ke
sebuah warung bakso. Di sana, kami makan mi ayam bakso dan minum air putih di
depan televisi yang menyiarkan serial india. Pinggang yang hampir patah, leher
yang terasa berat, juga pundak yang pegalnya bukan main, memerintah kami untuk
istirahat lebih lama sambil menunggu hujan reda. Seusai hujan berhenti dan
baterai ponsel kembali penuh terisi, kami pun bergerak mencari tempat untuk
tidur. Tujuan utama kali adalah sebuah musala yang berada di SPBU. Beberapa
bulan lalu, sebagian dari kami sudah mengunjungi Sibolga dan menginap di musala
tersebut. Itu yang menjadi patokan kami dan merasa aman karena tidur malam ini
tidak perlu berpikir keras lagi.
Begitu kami sampai di lokasi, ternyata
musala tersebut sudah ada yang menjaga. Termasuk toiletnya yang kini juga
berbayar. Kami pun berdebat mau nginap di malam ini? Mengecek hotel sudah pada
penuh tentunya karena tahun baru dan mendadak. Lalu kami menyisir lokasi
sekitar mengecek apakah ada penginapan yang masih tersedia. Tibalah kami di
sebuah wisma yang lokasinya sedikit masuk dari jalan raya. Seorang wanita yang
menjaga wisma tersebut menyambut dan mengarahkan kami ke sebuah penginapan
seperti rumah panggung yang terbuat dari kayu dan papan. Kami disuruh mengecek
kamar dan lain hal. Kondisi wisma yang berdebu, kotor, seperti tidak terawat
mengurungkan niat kami untuk berada di sini. Hingga harga yang ditawarkan lebih
meyakinkan kami bahwa tempat ini tidak layak ditempati.
Dengan tekad penuh keyakinan dan badan yang
kelelahan memerintah kami untuk kembali menyisir jalanan. Kali ini tujuan kami
adalah masjid-masjid terdekat. Dari tiga masjid yang kami observasi, ada banyak
alasan untuk mengatakan tidak. Tempat parkir yang tidak tersedia atau berada di
luar pagar, bersebelahan dengan kuburan, dan begitu sepi senyap. Di tengah
kebingungan yang melanda, salah satu rekan menyarankan untuk tidur di sebuah
warung yang tutup, hampir sama seperti tadi malam. Bergegaslah kami menuju
tempat tersebut, sebuah warung yang lebih kecil dari warung-warung di
Penatapan. Spanduk yang berada di sisi belakang kami tutup penuh, dan di sisi
kanan kami tutup setengah. Setelah memakirkan kendaraan dan barang-barang
dengan aman, kami mencari posisi tidur yang nyaman. Ada yang tidur di kursi
panjang dan ada juga yang tidur di atas meja. Sisanya sekitar lima orang
gantian berjaga.
Tanpa kami tahu, ternyata di sebelah kiri
dari warung ini merupakan toko lemari dan perajin kayu. Seorang pria dewasa
yang menjaga toko tersebut menawarkan kami untuk tidur di rumahnya yang
posisinya berada di bagian belakang. Karena sungkan, kami pun menolak tawaran
tersebut dengan alasan keamanan. Abang itu pun menyediakan pilihan lain, ia
mengambil tripleks dan membentangkannya di teras tokonya sebagai alas tidur
kami. Tidak sampai di situ, ia juga menyediakan kabel daya untuk mengisi
baterai sebagian ponsel yang sudah dalam tahap krisis. Dan setelah semua dirasa
aman terkendali, kami pun merebahkan badan hingga tertidur pulas bersama
nyamuk-nyamuk yang beterbangan bebas di sekujur badan untuk mengisap darah
segar.
Sabtu, 2 Januari 2021
Bukan
nyanyian ayam yang membangunkan kami. Melainkan knalpot-knalpot berisik yang
berlalu-lalang pagi hari. Tidak hanya memekakkan telinga, suaranya yang busuk
juga menaikkan pitam emosi. Pukul setengah enam pagi, sebagian dari kami mandi
di masjid yang ada di seberang jalan, masuk sekitar lima puluh meter. Ternyata
ini merupakan masjid tadi malam yang bersebelahan dengan kuburan. Ketika sinar
matahari secara bertahap menerangi Kota Sibolga, dan jam sudah hampir tiba di
angka delapan, lantas kami bergerak untuk mencari sarapan terdekat. Seusai
sarapan menu yang sama seperti kemarin: nasi gurih. Kami menuju Pantai Pandan
sebagai destinasi pertama. Matahari belum terlalu naik, tapi panasnya begitu
menyengat kepala. Kami masuk dari PIA Hotel, memakirkan kendaraan bersama
kendaraan yang lain. Setelahnya kami disuguhi pantai yang indah lalu ditawari
untuk menyeberang ke Pulau Poncan. Dengan halus kami menolak, karena masih
ingin menikmati daerah pantai yang setiap menitnya semakin ramai dikunjungi
pengunjung.
Kami
berjalan menyusuri deretan pasir yang membentang, hingga akhirnya memesan sebuah
pondok yang hanya beralaskan tikar berbentuk persegi panjang tidak terlalu
lebar. Karena langsung beralaskan pasir, setiap ada yang berjalan di sisi luar
atau ada yang lasak pasir-pasir itu beterbangan dan mendarat di tikar. Bukannya
menikmati panorama indah Pantai Pandan, kami justru asyik berbincang-bincang
sambil rebahan. Setelah bosan mau ngapain, akhirnya terjadilah diskusi untuk
naik wahana banana boat. Dengan alasan tahun baru, harganya naik dua
kali lipat dan membuat kami enggan untuk mengiyakan. Waktu terus berjalan, dan
Pantai Pandan mulai dipenuhi sesak padatnya manusia. Tidak ada lagi ketenangan
di sini, suara ombak kalah berisik dengan suara raungan bahagia dari manusia.
Padatnya
pantai yang tidak bisa lagi dibiak. Memunculkan saran untuk menyeberang saja ke
Pulau Poncan. Tiga orang dari kami mendatangi penawar jasa penyeberangan yang
menyambut kedatangan kami tadi. Kami tidak menemui orang yang sama, melainkan
orang yang berbeda tapi dari jasa yang sama. Setelah bercerita sembari
bernegosiasi, kami pun berhasil mencapai kata sepakat dari kedua belah pihak
dengan harga yang sangat miring. Untuk kejelasan, kami pun bertukar nomor
ponsel dan akan dihubungi ketika kapal akan berangkat. Di pondok tadi kami
mengumpulkan uang registrasi penyeberangan dan uang tikar yang belum dibayar. Seusai
semua aman terkendali, kami menitipkan kepada penjaga pondok untuk menjaga
beberapa barang berupa tas dan jaket yang akan kami tinggal. Tidak lama dari
situ, kami pun ditelepon untuk bersiap karena kapal akan menepi dan langsung
berangkat.
Kapal
kecil membawa rombongan kami dan rombongan lain menuju Pulau Poncan. Estimasi
perjalanannya tidak sampai setengah jam. Sepanjang perjalanan kami disuguhi
pemandangan bukit-bukit di sisi kiri dan kanan, deru ombak yang jernih, serta
angin yang bertiup kencang. Begitu kami sampai, pemandangannya jauh lebih indah
dari yang kami bayangkan. Air jernih kebiru-biruan, ada batu-batu yang
membentuk pulau kecil (masyarakat sekitar menyebutnya batu gajah), dan pasir
putih yang memanjakan mata. Sesudah mendapat tempat untuk mendiamkan barang-barang
dan berganti baju, kami pun menceburkan diri ke dalam air asin.
Dari
tempat kami menyelami air, kami melihat beberapa ibu-ibu dengan keranjang di
balik punggungnya berulang kali tangannya masuk ke dalam air lalu naik ke atas
dan memasukkan sesuatu ke dalam keranjang. Karena ingin tahu, kami menghampiri
dan bertanya-tanya. Ternyata mereka sedang mencari kerang, kepah, dan
sejenisnya. Dengan iktikad baik kami membantu menggapai kerang-kerang tersebut
dari bawah pasir. Lumayan sulit, bahkan dari kami ada yang berdarah terkena
cangkang kepah. Tidak hanya itu, kami juga mendapati kepiting dari dalam
cangkang yang kosong, serta bintang laut yang selama ini hanya kami lihat dari
layar televisi. Dari ibu-ibu itu kami mengetahui bahwa nama lain dari Pulau
Poncan adalah Pulau Bangkai. Nama itu beranjak jadi kejadian tidak jarangnya
ditemukan mayat yang mengapung di daerah sini. Maka dari itu, etika dan menjaga
perilaku sangat diutamakan. Tidak boleh terlalu bahagia dan sedih di sini,
salah seorang ibu menerangkan lebih lanjut.
Merasa
tidak perlu dibantu, ibu-ibu itu memberi masukan agar kami menikmati sendiri
hasil tangkapan kami. Dengan senyuman, kami mengangguk. Kami memasukkan kerang
yang kami tangkap ke dalam sebuah kantong plastik berukuran medium. Setelah
dirasa cukup, beberapa dari kami menyiapkan kayu bakar yang berasal dari
pohon-pohon bakau (mangrove) yang lapuk dimakan usia. Sedangkan beberapa
lainnya sibuk bercengkerama dan bermain pasir. Beberapa menit berlalu, saat
asap-asap itu membaluti kerang yang kami masukkan ke dalam kayu bakar, salah
satu rekan berhasil menemukan keong laut yang sedang berjalan menyelinap di
bawah pohon. Dari situ, kami berhasil menemukan keong laut lainnya baik yang
berada di pasir maupun yang berada di akar-akar pohon bakau. Mulai dari keong
laut yang berukuran kecil sampai keong laut besar yang bercangkang keong darat.
Kerang-kerang
yang sejak tadi kami diamkan sudah matang. Kami pun menyantapnya meski tanpa
bumbu apa-apa. Rasanya yang manis membuat ingin tambah terus-menerus sampai hal
itu berbentur kenyataan bahwa kerangnya sudah habis. Setelah mengisi perut
seadanya kami melanjutkan mandi-mandi santai dan bermain balap keong laut.
Karena sudah bosan mau ngapain lagi dan perut dihujam lapar, kami membereskan
barang dan bersiap kembali ke Pantai Pandan. Kami menunggu di titik awal
sewaktu diturunkan, sayangnya kami harus menunggu beberapa saat sampai akhirnya
kapal penjemput itu datang.
Begitu
menginjakkan kaki lagi di Pantai Pandan, kami ingin segera merebahkan badan
untuk istirahat di pondok yang kami tinggal tadi. Namun angan-angan pupus
begitu saja. Ketika kembali ke pondok, tempat yang kami bayar sudah tidak layak
untuk ditempati. Setumpuk pasir di mana-mana dan sampah jajanan yang
berserakan, membuat rasa ingin pergi begitu tinggi. Merasa sang pemilik tidak
bertanggung jawab, kami pun langsung pergi tanpa berpamitan. Dengan kondisi
badan yang asin, mencari kamar mandi sekaligus kamar ganti adalah pencarian
selanjutnya. Setelah berkeliling cukup lama dan setiap kamar mandi antre
panjang, kami berhenti di salah satu kamar mandi yang posisinya searah dari
pintu masuk. Seusai berberes mandi dan ganti pakaian, kami melanjutkan
perjalanan mencari rumah makan yang ada di sekitar jalan keluar Pantai Pandan.
Tanpa perlu berlama-lama langsung kami temukan nasi padang yang tidak jauh dari
pintu keluar.
Siang
berganti petang. Matahari mulai turun perlahan-lahan. Sembari menunggu waktu
malam tiba, panorama senja pun menjadi destinasi berikutnya. Kami masuk ke
jalan setapak yang juga merupakan pinggiran dari Pantai Pandan. Di sana, tidak
terlalu ramai. Kehadiran orang-orang bisa dihitung dengan jari. Sore semakin
tenggelam. Lewat air laut sinar jingga berpendar indah. Sebuah pemandangan
estetika yang sangat langka kami ilhami. Matahari sedetik demi sedetik
tenggelam di ujung barat, bersamaan dengan gelombang pasang dan kapal nelayan
yang berpulangan. Benar-benar takjub kami menyaksikan semuanya. Begitu matahari
pamit undur diri dari hadapan, kami langsung bergerak ke masjid yang letaknya
tidak jauh dari tempat kami sekarang. Setelah sampai, kami langsung membersihkan
diri lagi dan istirahat di terasnya.
Entah
mimpi apa kami tadi malam, salah satu pengurus masjid mempersilakan kami jika
ingin menginap di sini. Rupanya masjid ini menjadi tempat persinggahan bagi
banyak wisatawan. Lokasinya yang bersih dan tingkat keamanan yang terjamin
menjadi alasan. Isya pun berlalu, salah seorang pengurus masjid menyediakan
sajadah di teras untuk kami. Terima kasih banyak adalah balasan berulang kali
kami ucapkan. Barang-barang pun kami rapikan, kendaraan kami tepikan ke tempat
yang aman, setelah semuanya dirasa terkendali kami bergerak untuk menjemput
bunga mimpi.
Minggu, 3
Januari 2021
Tidur yang lelap dan lebih dari cukup
dibangunkan lembut oleh suara murottal masjid. Kurang dari lima belas
menit lagi adzan akan berkumandang. Kami membereskan sajadah kemudian
bersiap-siap di kamar mandi. Tidak hanya kami yang menginap di masjid ini, akan
tetapi di posisi sejajar dari kami juga ada sajadah yang digelar panjang untuk
tidur. Di parkiran, mobil-mobil terpakir rapi. Kamar mandi pun semua sudah terisi
dan menyebabkan antre tapi tidak lama.
Selesai
melaksanakan ibadah jamaah, ternyata ada tausiyah subuh yang dilaksanakan.
Orang-orang duduk rapi mengelilingi bagian dalam masjid. Perhatiannya tertuju
pada kepada satu orang yang berdiri dan sedang menyiarkan agama. Kami pun
berada di luar, mengecas baterai ponsel lalu rebahan di ubin yang mengarah ke
kamar mandi. Tetiba salah satu rekan membangunkan untuk mengambil sarapan.
Setelah tausiah selesai dilaksanakan, selanjutnya acara makan pagi bersama pun
dilakukan. Kami menunggu giliran untuk mendapat sarapan gratis berupa lontong
sayur dan teh hangat. Lalu makan bersama di tempat kami tidur tadi malam.
Berhubung jam masih terlalu pagi, kami berjalan ke bagian belakang masjid yang
terhubung langsung dengan pinggiran Pantai Pandan. Lamanya waktu berjalan, kami
manfaatkan untuk menikmati deru ombak pagi hari dan perahu nelayan yang pergi
berlayar.
Sekitar
jam 08:30 WIB rombongan kami sudah selesai mandi dan mengemas semua
barang-barang. Kemudian memanaskan mesin kendaraan sebelum akhirnya berangkat
pulang. Perjalanan pulang yang kami tempuh adalah lintas Sibolga – Padang
Sidempuan – Gunung Tua – Labuhan Batu Utara dengan perakiraan waktu enam jam
lebih. Sebelum tiba di Kota Salak (Padang Sidempuan) kami membeli jajanan
berupa roti dan air mineral di sebuah kedai kecil pinggir jalan. Hal ini guna
menahan lambung beberapa jam ke depan karena persediaan materi yang hampir kandas.
Baru beberapa menit melewati Padang Sidempuan kami berhenti di sebuah warung
guna membeli salak sebagai buah tangan untuk keluarga yang ada di rumah.
Suasana warung yang sejuk dan nyaman membuat kami terlena oleh jiwa yang meminta
istirahat lebih. Penjaga warung yang merupakan seorang pria berumur
mempersilakan kami jika ingin tidur atau duduk-duduk di sini lebih dulu. Tidak
ada kata setuju, tapi kami tergeletak di bangku panjang yang terbuat dari kayu.
Matahari
yang terus menapaki langit menjadikan siang semakin cerah. Karena istirahat
yang sudah terlalu lama, kami pun baru bergerak di jam setengah dua. Hujan
mengakrabkan diri di perjalanan pulang kami. Beberapa kali di Gunung Tua kami
harus terjebak hujan yang memaksa roda dua kami berhenti. Jika ditotal, hujan
membuat kami kehilangan sejam lebih waktu untuk bergerak. Setibanya di Langga
Payung, kami mengambil jalan pintas yang langsung tembus ke Sigambal. Dengan
medan yang mulus dan berlubang, tidak sampai dua jam kami sudah berhasil sampai
Rantau Prapat sekitar jam delapan malam. Lambung yang mengerutkan tajinya,
menyihir kami untuk berhenti di sebuah warung bakso yang letaknya ada di
Kampung Baru, Rantau Prapat. Bayangkan, perjalanan yang harusnya bisa ditempuh
tidak sampai tujuh jam, kami tempuh dengan waktu dua belas jam. Salut yang
tidak butuh tepuk tangan. Setelah diterpa kenyang, dengan melanjutkan
perjalanan lima belas menit, akhirnya kami sampai pelukan rumah dengan selamat.
Tidak ada
tempat ternyaman selain rumah
Di sana kau
tidak perlu repot keluar untuk sekadar makan
Tidak perlu
khawatir kehabisan uang
Tidak perlu
takut malam ini tidur di mana?
Tapi itulah
inti dari sebuah perjalanan
Kita
terbiasa mencari solusi di tengah kesusahan
Bertukar
pikiran yang kerap berujung perdebatan
Bukankah itu
makna dari sebuah perjalanan?
Kita harus
sampai ke rumah membawa segudang cerita
Tanpa harus
ada yang kurang dari jiwa dan raga
Materi bisa
dicari dengan kerja lagi
Tapi waktu
tidak pernah menunggu esok hari
Sebab ia
terus berjalan dan bermakna
Bagi setiap
pejalan yang mafhum arti rumah
Bagian
dari perjalanan:
1. Adit
2. Anto
3. Andre
4. Azri
5. Brahma
6. Dimas
7. Izal
8. Khairil
9. Nanda
10. Prima











.png)
Komentar
Posting Komentar