Surat Untuk (Hari) Ibu

Bu, hari ini merupakan tanggal 22 Desember yang diperingati sebagai
Hari Ibu. Di luar sana tidak sedikit kulihat masih banyak perdebatan tentang
harusnya Hari Ibu itu setiap hari, bukan satu hari. Perdebatan rutin setiap
tahunnya yang entah sampai kapan berakhir. Ada lagi perdebatan mengenai
toleransi menghargai bagi ibunya yang telah berpulang dan dianjurkan tidak
memosting foto agar tidak ada orang lain yang terluka di atas sebuah
kebahagiaan. Di luar sana terlalu berisik untuk sesuatu yang bisa disikapi dengan
tenang damai, Bu. Bagiku ini hanyalah sebuah perayaan dan setiap orang punya
caranya masing-masing merayakan kebahagiaan.
Bu, aku menyaksikan banyak dari teman-temanku memosting kebersamaan
dengan ibunya baik berupa gambar atau pun berbentuk video. Ada yang merayakan
dengan seporsi rainbow cake, berlibur ke suatu tempat, dan ada yang
membelikan ibunya hadiah pakaian serta perhiasan. Berdenyut lirih jantungku
melihat itu semua, Bu. Ada rasa haru, bangga, dan iri yang mengendap di bilik
dadaku.
Bu, ingin sekali aku mengucapkan “Selamat Hari Ibu” atau kalimat “Aku
menyayangimu” secara berulang tepat berada di depan wajahmu yang sudah ramai
dihiasi kulit yang membentuk lipatan sembari melemparkan senyum terbaik yang
semesta punya. Tapi rasanya aku tidak sanggup. Tidak sanggup menahan air mata
yang terlalu cengeng jika berkaitan dengan dirimu. Aku juga takut kalau kelak
itu semua menjadi ingatan yang tidak bisa kukubur dalam-dalam. Bu, ternyata
anakmu belum beranjak dewasa sepenuhnya.
Bu, kau membesarkanku sampai saat ini termasuk bahu-bahuku yang
mulai sekuat baja, tulang lenganku yang kokoh seperti kaki gajah, tapi belum
pernah lagi kupeluk tubuhmu yang sekarang sudah berada di usia senja. Ingin
rasanya aku menenggelamkan kepalaku di bahumu yang mungkin sudah tidak sekuat
dulu. Tapi aku yakin, kehangatan dan kenyamanannya masih sama seperti saat aku
kecil belasan tahun lalu, yang kerap tidur dalam pangkuanmu yang lelah menangis
karena terjatuh dan membuat lututku berdarah. Entah mantra ajaib apa yang kau
punya, Bu. Tiap aku berada di bahumu, aku tidak pernah ingin beranjak dari
sana, sedetik pun.
Bu, kini aku telah beranjak ke usia dewasa. Aku lupa, hal itu
sejalan dengan usia dan tubuhmu yang kian renta. Untuk sesaat, aku ingin
menangis saja di depan semesta lalu pulang kembali dengan membawa sebongkah tawa.
Bu, maaf. Kalau aku belum bisa seperti mereka yang kuat secara materi dan
tahta. Yang bisa membelikanmu hadiah apa saja, termasuk mengirimkan uang ke
rekening setiap bulan. Bu, aku tahu ada banyak kekhawatiran di kepalamu tentang
anakmu ini yang menjelma rambut-rambut putih yang rontok sesekali setiap habis
disisir. Bu, biarkan aku berproses dengan jalanku. Bantu aku dengan doa meski
kau sisipkan di kopi yang kau hidangkan di pagi dan malam hari untukku. Bu,
untuk segala hal yang membuatmu menjadi takut: aku minta maaf.
Oh iya, Bu. Ajari aku ilmu-ilmu gaib yang tidak pernah kau
bicarakan padaku. Tentang bagaimana menemukan suatu barang yang sudah kucari
sampai pengin teriak tapi tidak ketemu juga. Namun kau selalu tahu barang-barang
itu berada di mana walaupun sudah sebulan yang lalu tidak terlihat bahkan tidak
ada di rumah. Bu, ajarkan aku juga cara menyeduh kopi yang paling enak. Tanpa
menghilangkan ampasnya, kau mampu menyulapnya menjadi bubuk yang semakin
nikmati bila disesapi. Bu, ada banyak hal menakjubkan yang tidak pernah kau
ajari ke aku. Dan itu membuatku percaya, bahwa ibu adalah sosok malaikat tanpa
sayap yang menjelma manusia dan selalu dirindukan indahnya nirwana.
Bu, maaf kalau aku sering keras kepala dan membangkang omonganmu.
Untuk kalimat ini, aku tidak ingin memutar lagu Nadin Amizah – Bertaut seperti
orang-orang, Bu. Maaf kalau aku sering bangun siang dan tidak memakan sarapan
yang telah kau siapkan. Maaf kalau aku sering kesal karena ketika aku sedang
asyik rebahan kau malah menyuruhku untuk menyapu rumah atau membeli belanjaan
di kedai sana. Maaf kalau aku lupa mencuci piring setiap selesai makan. Maaf
kalau aku pernah berbohong demi begadang di tempat tongkrongan. Bu, untuk
segala salah yang tidak ada habisnya: aku minta maaf.
Bu, panjang umur, ya. Ada banyak keberhasilan anakmu yang harus kau
saksikan. Ada cita-cita yang akan ia gapai dalam beberapa tahun ke depan. Bu,
aku ingin engkau terus ada di sampingku menemani setiap proses gagalku sampai
berhasil. Aku ingin membelikan ibu kue tar berwarna biru muda sesuai warna
kesukaan ibu. Aku ingin mengajak ibu liburan ke pantai sembari menghitung ada
berapa banyak kapal nelayan yang menangkap ikan. Aku ingin, ibu ada di sini, di
sisiku. Itu sudah lebih dari cukup.
Ibu, terima kasih banyak untuk segalanya, dan sudah menjadi
segalanya.
.png)
Nulisnya dari hati:) hingga sampai ke hati. Panjang umur Bu 🤍
BalasHapusBegitulah kerja perasaan. Ketika sesuatu disampaikan dari hati, akan sampai ke hati
Hapus