Menepi.
(Ada baiknya, sebelum atau saat membaca tulisan sederhana ini, mendengarkan lagu dari “Ngatmombilung – Menepi". Agar situasi didukung, juga kau sadar banyak jawaban yang digantung)
Aku tidak tahu bagaimana bisa aku terjebak nyaman denganmu. Seseorang yang sudah memiliki pengisi, tapi bisa-bisanya aku berharap lebih.
Semua bermula dari perkenalan yang biasa-biasa saja. Lewat postingan di sosial media lalu sesekali bertukar pesan yang selalu berujung pengabaian. Tidak masalah, awal perkenalan. Waktu berubah, kedekatan kita tak terduga. Pesan saling berbalasan, pertanyaan selalu menemui jawaban. Sehari tidak bertukar canda sedikit hampa rasanya. Barangkali itu sebabnya kita sama-sama tidak ingin menghentikan percakapan begitu saja.
Tak jarang kita saling memperhatikan. Bertanya tentang aktivitas seharian atau memberi semangat ketika ada tugas yang belum terselesaikan. Belum lagi peduli yang semakin hari kian berarti, di sela-sela lelah yang terkadang butuh diobati. Kita sama-sama menyediakan bahu untuk semua ragu, kata batin yang tidak lagi mencari perahu untuk berlabuh. Kita sedekat itu. Sedekat aku ingin terus bersamamu, pergi sejenak saja sudah membuat rindu. Mungkin benar, ekspektasi sejalan dengan apa yang ada di pikiran dan hati.
Menjadikanmu sekadar teman baik adalah hal yang kuingin. Memesan cerita, menguap tawa, lalu meneguk luka. Begitulah kira-kira siklusnya.
Tetiba ada gejolak dalam dada yang tidak biasa. Saat semesta bukan lagi tentang kesendirian yang hinggap di dinding-dinding kamar menentang kekosongan. Aku tidak benar-benar sendiri, selalu kutemukan kau kala aku bahagia dan sedih. Jujur, aku nyaman denganmu. Tapi tidak dengan perasaanku. Aku terlalu jahat untuk menghindar, juga tidak tega jika membiarkan pesanmu sampai membuat menunggu. Bentar, mungkin ini semua hanyalah khayalanku yang menganggap jika kau punya perasaan yang sama. Terlihat dari instastories yang kaupajang boomerang berdua dengan label kekasih ber-caption mesra. Aku mengelus dada. Melampirkan senyum seolah baik-baik saja. Sepi pun tahu itu penuh palsu, di antara sesak yang menghujam deras kalbu.
Pernah terbesit agar perasaan ini kuungkapkan saja. Tapi rasanya terlalu ego jika yang terjadi malah kita tidak sedekat dulu lagi. Dari awal juga aku sadar diri, aku hanyalah pengisi sepi saat keramaian di sekelilingmu tidak benar-benar menemani. Setidaknya, walau dengan perasaan yang berusaha kulawan aku masih bisa menikmati senyummu sepanjang malam. Masih berkirim pesan meski di sini aku meredam perasaan yang tidak lagi tenang. Cemburu berapi-api, dengan satu-satunya bahan bakar menerima kenyataan kalau kau sudah tidak butuh dilengkapi.
Berteman saja cukup, bukan?
Kini biarlah aku sendiri menjelajah apa saja termasuk hati manusia. Walau harapku denganmu tidak mati sepenuhnya. Tidak tahu kapan sembuh, hari-hari hanya dipenuhi isak sendu. Perasaan ini akan berubah menjadi kekaguman paling rahasia. Masuk ke dalam perasaan yang memeluk erat jiwa. Kuat. Tidak semua bisa dimiliki. Sebagian hanya bisa dirasakan penuh sadar diri. “Kalau jodoh juga enggak akan ke mana”, kalimat menyerah yang kulantukan penuh pasrah sembari mengelus dada.
Bahagialah dengannya. Kapan pun kau menghubungiku, selalu tersedia waktu luang. Kapan pun kau mau bertemu, selalu tersedia rindu yang tak bertuan. Tidak akan pernah kuusik hubunganmu dengannya yang sudah terjalin cukup lama. Bahkan setelah kata “kita” di bait-bait ini kuharamkan ada. Aku akan tetap begini. Menggenapkan langkah dengan sisa air mata berbalut canda tawa. Jika sudah saatnya, waktu yang akan menjawab semua pertanyaan. Semakin di jauhkan, atau semakin dihilangkan.
Begini saja cukup, bukan?
“Harapan akan sirna dengan sendirinya. Saat realita menampar tanpa bertanya mengapa”

.png)
Komentar
Posting Komentar