Algoritma.
Siapa bisa memprediksi hidup? Yang bisa merencakannya, banyak!
Tatkala waktu terus melaju. Kita semakin sering ambigu menghadapi kenyataan yang sulit ditebak. Bukan berarti tidak menerima segala sesuatu yang terjadi, bahkan lebih dari itu, karena kita sudah berdamai dengan semua luka di hati. Tetapi semakin ke sini, banyak gejolak dalam diri dan tanda tanya tanpa menyertakan jawabannya. Entahlah. Algoritma.
Mungkin sudah saatnya kita harus istirahat sejenak dari segala kesibukan yang mengundang kejenuhan. Sekadar merefleksikan diri; lewat liburan, membaca, atau mendengarkan musik yang mengisi tangga nada. Barangkali, itu bisa memberi sedikit jeda untuk raga.
Rasanya pengin menyerah. Di lain sisi malu kepada semesta yang sudah banyak menciptakan keajaiban. Ingin bertahan, padahal sedang tidak menggenggam apa-apa. Lantas, sedang apa? Tanya relung hati.
Telinga sudah muak dengan mereka yang sibuk bercerita, tapi tidak sebaliknya. Telinganya, tidak menyediakan ruang untuk diisi cerita dua arah. Ah, egois. Simpan saja ceritamu di lain waktu, atau cerita jika kau juga mau mendengarkan ceritaku. Sepakat? Jika tidak, bukan masalah. Aku hanya memberimu pilihan menjadi manusia. Ini bukan perihal keikhlasan tapi tentang bagaimana bersikap kepada sesama. Apa sih susahnya mendengarkan tanpa menyela? Apa sih susahnya mendengarkan kecewa dari seseorang tanpa harus bertingkah menjadi pahlawan? Kita memang terlalu sering menjadi pahlawan di cerita orang lain, tapi pengecut di cerita sendiri.
“Ah, gitu doang” “Banyakin bersyukur!” “Kau masih mending….” Respons yang seharusnya ditiadakan di muka bumi. Sejak kapan manusia dibatasi dalam hal bercerita? Layaknya hitam-putih, langit-bumi, semua ada pasangannya. Termasuk bersyukur dan mengeluh. Menceritakan keluhan bukan berarti tidak bersyukur. Justru dengan mengeluh, manusia akan mengerti bahwa juga ada yang patut disyukuri. Begitu, kan? Harusnya?!
Rasanya ingin tertawa melihat kebanyakan orang marah karena tidak dihargai. Sampai-sampai lupa caranya untuk introspeksi. Menganggap segala perbuatannya baik, tapi tidak menganggap ada hati yang pernah ia pekik. Lucu, kan? Atau, tersadarkan? Tetap saja, yang namanya menyadari dan tersadar itu berbeda. Ada ruang waktu yang menjembataninya. Terkadang, beda persepsi dibesar-besarkan. Seolah menentang tentang adanya banyak cabang dari pikiran untuk berbagi sudut pandang.
Karya Tuhan itu terbaik. Termasuk tentang isi kepala yang berbeda-beda. Anggap saja sebuah buku. Satu judul, ditulis oleh banyak penulis. Berbeda, akan semakin menambah referensi dan pustaka baca. Kenapa, sih, harus sama? Kenapa tidak mau berbeda agar banyak tambahan bahan cerita? Kenapa? Harus sama?
Kita tahu tentang diksi dan sajak dalam setiap tulisan. Jika terlalu kerap dipasangkan, pembaca akan semakin muak dengan polanya. Kita juga tahu tentang nada berirama pada setiap musik yang menemani setiap malam. Jika iramanya sama, bunyinya tentu akan membosankan. Monoton. Sama seperti hidup yang butuh diyakinkan atas sebuah jawaban. Mengais sisa percaya di antara tumpukan dusta. Sulit. Rumit. Tapi tidak bisa apa-apa.
Terkadang bingung mengapa dari kita masih banyak yang tidak mau bersifat dan bersikap apa adanya, kemudian memilih membungkus dengan rapi lewat linimasa. Sebegitu hinakah penilaian manusia? Sampai lupa bahwa sejatinya penilaian paling mutlak adalah dari Tuhan? Mungkin sosial media bisa dibilang sebagai teman. Tapi jangan sampai lupa bahwa teman terkadang juga mau memakan teman sendiri. Banyak dari kita melacurkan diri lewat linimasa. Satu hari diisi oleh banyak instastories yang tidak bermakna. Tujuannya apa? Egosentris; ingin jadi pusat perhatian atau tidak ingin menampilkan kesunyian. Harusnya jika niatnya untuk dokumentasi tidak perlu diketahui khalayak ramai, cukup disimpan sendiri jadi koleksi pribadi. Tapi, yang namanya manusia memang butuh perhatian dan haus pujian, ya?!
Benar. Sendiri adalah merdeka dalam sunyi. Saat tidak ada satu pun circle yang ada saat kita jatuh tertimpa tangga. Bersembunyi di balik kamar memutar lagu sendu lalu meratapi liriknya dalam-dalam. Kadang, kesedihan memang harus dinikmati bukan dijauhi.
Teman sejatimu adalah dia yang tidak akan pernah berubah saat bertemu dengan teman baru atau punya kekasih baru. Sebuah siklus kehidupan. Teman semakin jarang ada waktu atau bahkan lupa dengan kita yang dulu selalu tempatnya bercerita dan berkelu kesah. Mau bagaimana lagi? Sudah siklusnya. Dalam berteman juga ada tingkatannya, ya? Yang kalangan berada, ada kelompoknya. Yang followers-nya banyak, ada kelompoknya. Yang biasa-biasa aja, juga ada kelompoknya. Memang harus gitu, ya? Pisah-pisah? Yang buat gak bisa bersatu itu prinsip atau ego? Coba tanya ke diri masing-masing. Kelak kalau sudah mati, semua yang kita punya di dunia ini tidak akan di bawa kecuali amal baik. Lantas kita bertanya lagi, apa sih yang sebenarnya kita cari di dunia ini? Meratap, lalu mencoba tersenyum. Semua akan baik-baik saja.
Saat sekarang ini bukanlah hal sulit menjadi orang baik. Yang membuatnya sulit adalah sibuk memamerkannya ke mana-mana. Jadi sampai lupa esensinya. Jangan pernah bosan mengirimkan pesan kepada mereka yang kita anggap teman, walau sering kali mereka yang tidak membalas pesan kita malah kita yang dianggap kurang ramah. Mungkin itu adalah hadiah. Hadiah yang mendewasakan. Paling tidak kita bisa menang melawan ego untuk bertanya kabar atau memastikan hubungan dengannya baik-baik saja. Kita hanyalah manusia yang ingin diperlakukan layaknya manusia, cuma itu yang kita ingat.
Kalau lagi jenuh sama rutinitas, istirahat. Tapi jangan sampai terlena. Jangan juga dipaksa. Tubuh butuh ruang, pikiran butuh jeda. Sehat jauh lebih baik dari segalanya. Nggak apa-apa ngeluh sama tugas kuliah, atau ngeluh karena kerjaan yang menumpuk. Kita manusia. Nggak semuanya harus baik-baik saja. Kalau semuanya sesuai rencana, dari mana kita belajar dewasa?
Beban sudah menumpuk. Tekanan seolah diberi pupuk. Cuma butuh dipeluk. Itu saja, kan? Kalau pengin cerita, cerita saja. Sama telinga yang bisa dipercaya dan mampu beri feedback yang baik. Kalau bisa disimpan sendiri, simpan saja. Masih ada media tulisan untuk menumpahkan segalanya. Tapi kalau sekiranya nggak bisa, kita pasti bisa menemukan satu orang yang setia mendengarkan. Sadari orang terdekat. Jangan karena sibuk dengan dunia sendiri jadi memberi sekat.
Algoritma. Siklus kehidupan yang akan terus berjalan. Siap tidak siap, harus siap. Ambil pelajaran jangan lupa jalan pulang.

.png)
Komentar
Posting Komentar