Rumit
Perihal rasa, selalu punya jalan ninja-nya masing-masing. Ada yang sulit ditelaah, ada juga yang mudah dicerna. Semua tergantung bagaimana semesta dan usaha membentuk sebuah pola yang akhirnya diharapkan berkesesuaian dengan awal distraksi ekspektasi.
Perasaan bukanlah kompetisi. Bukan tentang menang dan kalah. Bagiku, kalimat itu mengarah kepada dua orang yang saling mencintai secara dua arah. Satu melambaikan, satu lagi menjabatnya penuh kehati-hatian. Lalu terikat sampai akhir hayat. Tapi jika perasaan dibebankan untuk satu orang. Atau perasaan ini hanya milikku seorang. Untukmu, aku mengaku kalah. Mungkin kau akan berkata “Ah, segitu doang perjuangannya?!” Iya, cuman sampai sini saja kemampuanku membuatmu luluh. Aku bisa saja berjuang lebih jauh, lebih keras, bahkan lebih gigih. Namun aku sadar, untukku, kau tak punya hati.
Kau pasti paham mengapa jalan terakhir (menyerah) itu kupilih. Tak lebih agar dari kita masing-masing mampu menemukan bahagianya sendiri-sendiri. Tak peduli berapa kali kau memandang purnama sebagai pemandangan paling indah. Di belakangmu akan selalu ada aku yang mematenkan senyummu sebagai anugerah paling langka. Setiap kali kau melihat bintang-bintang yang saling beradu terang, kupastikan bahwa cahaya paling terang adalah rasaku yang menjelma menjadi bintang malam. Walaupun terang, tetap saja dihatimu aku tak pernah punya kesempatan.
Kelak kau akan mengerti tentang siapa yang memiliki rasa paling pasti. Menunggu, walau tak diberi waktu. Tersenyum, walau belati sudah menusuk lebih dulu. Itu, aku.
Aku tidak menyangka mulanya jika mengenalmu akan ada fase di mana aku menyukaimu. Tapi, siapa bisa merencakan sebuah rasa? Dan menolak kehadirannya? Kurasa tidak ada yang bisa. Kalau memilih memendam untuk tidak menyatakan, itu beda istilah. Salahku juga yang terlalu cepat menyatakan. Tanpa berpikir panjang bagaimana perasaanmu ke depan. Aku tahu kau pasti terbebani. Meskipun aku tidak berharap balasan baik yang kau beri. Kau menolak pun, bagiku itu sudah lebih dari cukup. Asal jangan kau batasi ruang gerakku untuk menyukaimu. Tapi jika kau tidak mengizinkan aku untuk menyukaimu lagi. Baiklah, secepatnya rasa ini akan terhapus sendiri. Terima kasih.
Andai kau mengerti. Selama aku ada di bumi tak pernah aku mencintai seseorang seikhlas ini. Ikhlas jika bukan aku yang kaupilih untuk menemani setiap langkah. Ikhlas jika bukan aku alasan kau bahagia. Juga ikhlas jika sejak awal mengenalmu hanya akan menghadirkan kata patah. Tak apa, ada baiknya juga begini. Bumi terus berotasi, aku berhenti menyukai. Andai batas imaji bisa berbicara lebih jauh, kan kujadikan kau sebagai pusat semesta dari rindu. Itu juga kalau kau izinkan, jika tidak biarlah aku yang menerjemahkan sendirian.
Teriring sudah pesan terakhirku untukmu. Di lain hari jika kaubutuh, aku selalu punya waktu. Karena aku tidak benar-benar pergi, sebagaimana doaku yang tak akan pernah berhenti.

.png)
Komentar
Posting Komentar