Untitled Letter


Jika pada umumnya surat ditulis lengkap dengan alamat yang dituju, tapi tidak dengan surat yang ku tulis kali ini. Surat ini ku publikasikan bebas kepada siapapun yang ingin membacanya. Aku tidak tahu orang mana yang benar-benar tepat untuk diberi surat ini. Jadi jika kau membaca surat ini dengan sukarela, kau adalah salah satu orang yang tepat sasaran dan merupakan bagian dari surat yang ku tuliskan. Terima kasih sebelumnya, jika kau sudah (mau) membacanya.

Banyak orang yang sedang dilanda asmara begitu yakin bahwa kekasihnya saat ini adalah jodohnya. Melewati masa-masa renggang dengan berbagai macam penyelesaian, memercayai kata kebanyakan orang tentang wajah yang mirip, selalu melewati setiap kejadian dengan berkesan, dijadikan sebagai patokan. Aku tidak tahu jika mereka yang berasumsi tentang itu melangkahi garis takdir yang telah Tuhan tentukan. Yang ku tahu, segala masa depan tentangku  bisa ku abstraksi-kan. Aku tidak pernah iri melihat orang-orang yang berkekasih pamer kemesraan sana sini. Mengunggah poto di sosial media sebagai di berbagai platform bahwa mereka masih saling mencinta, sebagai tempat saling mengakui bahwa dirinya bahagia bersama sang kekasih, di bumbuhi caption dengan kata-kata yang menduplikasi para pejuang karya. Sayangnya, terkadang nama penulis tidak diikut sertakan.  Atau barangkali mereka lupa. Terlena oleh rasa yang memorak-porandakan rasa. Bisa saja. Aku iri bagaimana semesta membuat takjub dengan menemukan dua orang insan yang sama sekali belum pernah berjumpa. Kemudian membangun rasa di setiap celah yang ada, sebelum mengikat janji suci bersama dihadapan dua keluarga yang berbeda. Saling melingkarkan cincin di jari manis, berharap kebersamaan itu takkan pernah habis. Setiap mereka yang berjiwa dan bernyawa pasti pernah merasakan apa itu cinta. Tetapi hanya sedikit pula dari mereka yang mengerti hakikat cinta sebenarnya itu seperti apa.

Semesta terus berjalan, untuk setiap usaha dan doa yang ku panjatkan.

Aku menuliskan surat ini untukmu, yang aku pun sama sekali belum tahu siapa. Kau tahu, ada banyak cara Tuhan mempertemukan kita kelak. Mungkin salah satunya lewat tulisanku yang teramat sederhana ini. Aku sering menerka-nerka bagaimana wajahmu nanti. Pra dan pasca ku miliki. Bahagia atau sengsara setelah bersama. Jelasnya, tujuanku adalah membuatmu bahagia. Sekerasku. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, kemudian telingamu menjadi satu-satunya tempat untuk mendengarkan. Ada banyak masalah yang ingin aku tumpahkan, kemudian mulutmu menjadi satu-satunya yang memecah permasalahan .Juga ada banyak lelah yang ingin aku keluhkan, kemudian bahumu menjadi tempat ternyaman untuk sandaran. Aku sudah tidak sabar mendengarkan tawa kecil darimu, karena jokes-jokes garing dariku. Aku sudah tidak sabar melihat senyummu, karena tingkah-tingkah nyeleneh dariku. Aku juga sudah tidak sabar untuk merindukanmu, kemudian kita saling berusaha mengadakan temu. Kau ada, untuk pikiranku yang masih maya.

Mungkin membicarakan masa depan adalah fase dimana kita akan sering bertengkar hebat. Perihal akan membangun rumah dimana, kamar berapa, dan tentang bagaimana dekorasi rumah. Ku harap segala permasalahan yang pasti akan kita hadapi nanti, tidak akan memudahkan bibirmu untuk menyatakan pergi. Menghadapi segala debat dan cekcok, tidak memudahkanmu untuk menyimpulkan bahwa kita tidak cocok. Aku hanya ingin kau tahu; kita ada karena kita berbeda, kita bisa utuh karena mau bersatu. Aku adalah orang yang keras kepala. Terkadang masalah kecil ku besar-besarkan, tidak secara dingin ku selesaikan. Aku ingin kau menjadi alasan agar ego ku tidak membara seperti dulu. Menasehati jika salah, mendukung jikalau benar. Aku ingin tahu rasanya bagaimana ketika kau membangunganku di waktu subuh, menyiapkan segala keperluan agar aku sholat berjama’ah. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya seduhan kopi yang kau buatkan untukku. Dengan satu sendok gula sebagai tanda bahwa kau telah benar-benar mengenaliku. Aku ingin merasakan roti bakar dengan selai kacang yang kau letakkan di meja, sebelum melepasku berangkat kerja. Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya ketika lambaian tanganmu, melepas kepergianku, disambut dengan rindu untuk beberapa jam kemudian. Aku ingin selepas kerja yang di sambut senja, pelukmu adalah sehangat-hangatnya rumah, dan hatimu adalah tempat paling menyenangkan untuk pulang.

Aku tahu, kau pasti ada untuk itu semua.

Aku tak henti-hentinya berdoa. Agar segala tentangmu benar nyata adanya. Mungkin terlalu aneh jika aku bilang “aku merindukanmu”. Tetapi memang begitu. Mungkin kau adalah orang yang selama ini sering ku jumpai, mungkin juga tidak. Mungkin kita sering berpapasan, hanya saja kita tidak saling mengenal, mungkin juga tidak. Semesta lebih tahu, aku hanya menerka, dan Tuhan yang punya rencana.

Sebelum kita di persatukan. Hatiku telah berkelana kemana-mana. Aku telah mengalami beberapa patah hati paling mengerikan, yang merenggut asa, yang hampir membuat ku mati rasa. Aku juga sudah mengalami pahitnya di kecewakan, pun di tinggalkan. Tetapi tak apa, saat bersamamu nanti aku telah jauh bangkit dengan kaki sendiri. Sebab aku percaya, semesta tak pernah berhenti diam untuk hatiku yang biru melebam. Aku tidak akan bertanya perihal masa lalumu, asalkan kau tak pernah mengungkitnya. Kita ada untuk masa depan yang sama, membangun singgahsana, menetap hingga menutup usia disana.

Kita bersatu dalam waktu tidak yang lambat, juga dalam waktu yang tidak cepat, melainkan dalam waktu yang benar-benar tepat.

Jika sudah saatnya kita bertemu, kemudian dipersatukan. Aku percaya, doamu telah Tuhan kabulkan. Aku percaya, doamu tidak pernah berhenti hingga malam. Aku percaya, doa khusyuk darimu mengangkasa hingga langit ketujuh. Bila saat itu tiba. Apapun akan ku lakukan demi membuatmu bahagia dengan cara-cara sederhana yang bahkan mungkin kau anggap tabu hingga akhirnya kau terbiasa. Untuk saat ini, biarlah kita sendiri menjalani apa yang kita impikan. Bagaimana pun, aku percaya; doamu selalu ada, begitu pun sebaliknya.

Kita ada, karena semesta terus bekerja,
hingga saat itu tiba.

Komentar

Postingan Populer